Kongres Luar Biasa Tidak Biasa

Kongres Luar Biasa Tidak BiasaKongres Luar Biasa (KLB) dalam sebuah organisasi apalagi partai politik, biasanya penuh dinamika dan berjalan alot. Namun, suasana itu tidak terjadi dalam KLB yang dilakukan Partai Demokrat beberapa hari lalu. Kongres Luar Biasa di Bali itu terasa adem. Waktunya singkat dan Susilo Bambang Yudhoyono secara aklamasi ditetapkan sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

Tentu, sah saja seorang kader partai terpilih menjadi Ketua Umum. Tetapi terpilihnya SBY tentu merupakan hal lain, sementara kalangan merasa janggal dan kurang wajar. Ada kesan SBY mengambil alih partai secara utuh. Sebelumnya, beliau adalah Ketua Dewan Pembina sekaligus Ketua Majelis Tinggi, dan jabatan barunya ini, Ketua Umum Demokrat.

Sebetulnya, rangkap jabatan pada sebagian organisasi sangat dihindari. Tapi tak begitu di tubuh Demokrat, hal itu tampak biasa. Meskipun dalam teknis operasionalnya, ditunjuk ketua harian, namun itu juga atas otoritas SBY. Tak kalah pentingnya, kini SBY adalah Presiden.

Transisi Demokrat

Kongres Luar Biasa yang praktis dan singkat itu merupakan langkah cepat Partai Demokrat untuk memenuhi ketentuan dalam proses pencalegan. Karena daftar Caleg yang akan diajukan ke KPU harus ditandatangani oleh seorang Ketua Umum. Demokrat menempuh pilihan ini setelah turunnya Anas Urbaningrum dari Ketua Umum Partai Demokrat.

Di tamba lagi perlu adanya pengamanan agenda-agenda strategis mendatang. Di antaranya, penyusunan nama daftar Caleg, kebijakan arah politik, proses pencalonan Presiden dan Wakil Presiden, dan sudah pemenangan Pemilu.

SBY sebagai “pemilik” partai, tentunya memilik kepentingan. Baik terkait dengan kebijakan maupun masa depan partai Demokrat. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembenahaan dan penyelamatan seperti dikendakinya.

Pelaksanaan konggres dikondisikan satu suara dan tidak dibiarkan terjadi persaingan serius. Dikhawatirkan memperuncing perseteruan internal partai. Konflik kepentingan serta politik uang, seperti yang terjadi pada konggres di Bandung lalu tidak terulang kembali.

Usai mundurnya Anas Urbaningrum dari Ketua Umum, partai berlambang mercy ini rupanya kesulitan mencari figur ketua umum yang bisa mengakomodir semua kepentingan internal partai. Akhirnya, SBY memegang kendali partai. Sehingga yang terjadi, kooptasi berlebihan dari Cikeas.

Dinasti politik

Dinasti politik dalam tubuh Partai Demokrat masih berlangsung dan semakin melembaga. Ketergantungan terhadap figur SBY tak bisa dihindari, malah semakin kuat menjadi oligarki—hal yang seharusnya dikurangi. Langkah Demokrat menuju partai modern bisa jadi merupakan jalan panjang dengan fenomena hasil KLB ini.

Pemilu 2014 adalah ujian berat bagi Demokrat. Selain persoalan internal partai, yang terkait dengan kepemimpinan, ada juga persoalan lain. Mengenai kandidat calon Presiden yang akan diajukan Demokrat. SBY yang sudah dua periode sebagai Presiden tidak memungkinkan untuk dicalonkan kembali. Sementara, saat ini belum ada figur yang secara resmi dicalonkan oleh Partai Demokrat.

Tapi, kita sudah bisa menduga, sebagaimana Kongres Luara Biasa, buat Partai Demokrat, calon Presidennya pun akan dipilih oleh SBY.

Recommended For You

About the Author: Danang Munandar

Konsultan Politik pada CRESN (Center for Response on Early Strategy and Navigation), Semarang, Jawa Tengah