Jumlah Pemilih Pemula Potensial

pemilih_pemula3Perilaku pemilih (voting behavior) menjadi bahan analisa bagi partai politik, caleg, maupun calon presiden. Sebagai upaya kalkulasi meningkatkan elektabilitas menjelang pemilu. Tak terkecuali kalangan remaja yang baru pertama kali memilih.

Belum lama ini, Lembaga Survei Nasional (LSN) melakukan survei terkait perilaku pemilih pemula berusia 16-20 tahun atau yang akan melakukan pemilihan pertama pada 2014.

Survei ini dilakukan pada 1-7 April 2013 di 33 provinsi seluruh Indonesia. Survei berdasarkan suara 1.230 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara tatap muka dan memberikan kuisioner dengan margin of error 2,8 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Hasil survei LSN menyimpulkan, perilaku pemilih pemula cenderung rasional dan otonom. Mayoritas mutlak atau sebanyak 94,6 persen responden mengaku akan memilih capres atau partai sesuai dengan hati nurani dan pikirannya sendiri.

Hanya 3,6 persen mengaku akan meminta pendapat dan saran orang lain. Sedangkan yang mengaku mengikuti pilihan orang yang disegani hanya 1,8 persen.

Pada pemilih pemula, faktor-faktor primordial (suku, agama, dan ras) kurang dipertimbangkan. Kecenderungan voting behavior masyarakat Indonesia secara umum yang mayoritas masih menghendaki Presiden RI mendatang berasal dari suku Jawa ternyata tidak berlaku. Responden (41,3 persen) tidak mempermasalahkan latar belakang suku capres.

Pertimbangan pemilih

Yang dipertimbangkan dalam memilih calon presiden (capres) adalah kemampuan capres dalam memecahkan masalah (46,4 persen). Selain itu track-record dan program kerja juga dipertimbangkan.

Aburizal Bakrie dan Wiranto merupakan capres yang paling banyak dipilih, 18,6 persen responden memilih Aburizal Bakrie dan 16,4 persen memilih Wiranto. Sementara Prabowo Subianto yang elektabilitasnya selalu teratas dalam berbagai survei, hanya didukung 12,5 persen responden.

Terhadap partai politik, pemilih pemula pada pemilu mendatang cenderung memilih dua partai besar, PDI Perjuangan dan Partai Golongan Karya. 19,5 persen pemilih pemula memilih PDIP, unggul tipis atas Golkar (19,3 persen). Setelah itu, disusul dengan elektabilitas Hanura yang menduduki posisi ketiga dengan 12,8 persen, diikuti Gerindra: 12,8 persen, Nasdem: 10,8 persen, Demokrat: 4,6 persen, PAN: 3,6 persen, PKS: 1,8 persen, PKB: 1,6 persen, PPP: 1,1 persen dan PBB: 0,4 persen. Sementara 11,7 responden tidak memberikan jawaban.

Elektabilitas PDIP menduduki peringkat teratas. Disebabkan sosialisasi yang dinilai lebih efektif, dan mengena. Para bakal calon anggota Legislatif dan simpatisan dengan sendirinya berinisiatif memperkenalkan partai kepada pemilih pemula dan masyarakat tanpa komando dari pimpinan partai.

Selain itu, infrastruktur partai yang mapan sampai ke tingkat bawah serta kiprah anggota legislatifnya juga mempengaruhi citra partai.

Golkar juga melakukan hal yang relatif sama dengan PDIP. Bahkan memiliki program internal partai untuk bersosialisasi ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia dan berupaya menjaring suara dari pemilih pemula.

Di samping itu, iklan Ketua Umum partai Golkar di media yang menampilkan kedekatan dengan pemilih pemula juga berdampak positif.

Pemilih pemula merupakan lumbung suara apabila dikelola dengan baik. Jumlahnya yang sangat besar dan usianya yang masih muda adalah potensi bagi raihan suara partai politik, caleg, dan capres pada pemilu.

Potensial

Berdasarkan Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) sebesar 150 juta, data pemilih berumur 10-20 tahun sebanyak 46 juta. Sementara, data pemilih berumur 20-30 tahun adalah 14 juta. Sisanya, pemilih berumur di atas 30 tahun ke atas. Jadi, jumlah pemilih pemula diperkirakan sekitar 50 juta.

Dengan jumlah pemilih pemula sebesar 50 juta, atau sepertiga dari jumlah DP4, tentu merupakan lahan garap potensial bila partai politik, caleg, dan capres ingin meningkatkan elektabilitasnya. Prioritas mendapat dukungan dari pemilih pemula sangat penting untuk dikaji dan dirumuskan.

Sebagai upaya menelurkan formula kampanye untuk pemenangan Pemilu 2014. Dan semestinya partai politik concern melakukan pendidikan politik bagi pemilih pemula.

Recommended For You

About the Author: Danang Munandar

Konsultan Politik pada CRESN (Center for Response on Early Strategy and Navigation), Semarang, Jawa Tengah