Kembali Bangkit

kebangitan nasionalMemasuki abad kedua puluh (Baca: 1900-an) di wilayah Hindia Belanda yang merupakan koloni dari negeri Belanda telah terjadi perubahan corak perjuangan dari kaum pribumi. Beberapa kalangan terpelajar mulai menampakkan geliat politiknya, dengan membangun oganisasi pergerakan untuk mewujudkan kemandirian mengurus bangsanya. Sehingga, tidak heran bila masa itu disebut dengan masa kebangkitan nasional.

Pada tahun 1908, berdirilah Budi Utomo yang dipelopori dr Wahidin Sudiro Husodo dan dr Soetomo. Sebelumnya, di Solo pada tahun 1905, berdiri Sarekat Dagang Islam yang akhirnya berkembang menjadi Sarekat Islam (SI) pada 1906.  Perkembanganya pesat ke berbagai wilayah di Nusantara. Beberapa tokoh pergerakan nasional baik yang berhaluan nasionalis, Islam maupun komunis merupakan mantan anggota SI.

Tonggak kebangkitan

Namun, menjadi tonggak kebangkitan nasional adalah berdirinya Budi Utomo, 20 Mei 1908. Padahal, kalau ditilik dari aktivitasnya Sarekat Islam (SI) lebih dominan perannya dan lebih luas cakupannya terutama ketika di bawah pimpinan HOS Cokroamnoto. Sementara, Budi Utomo lebih pada perkumpulan para priayi Jawa dan terkesan elitis.

Terlepas dari itu, semua yang jelas setelah berdirinya Sarekat Islam dan Budi Utomo kemudian bermunculan organisasi pergerakan nasional yang mencita-citakan Indonesia merdeka.

Dalam politik praktis, lahirlah partai politik pertama di Hindia Belanda yaitu Indische Partij pada 1912 yang didirikan oleh tiga serangkai yakni E.F.E. Douwes Dekkern, Tjipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Dan ini merupakan partai politik pertama yang menuntut kemerdekaan Indonesia, dan secara resmi didaftarkan status badan hukumnya ke pemerintah Hindia Belanda, tapi ditolak karena dianggap dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat yang akan menentang pemerintah kolonial.

Kebangkitan politik

Kebangkitan nasional bisa diartikan pada bangiktnya kesadaran politik warga pribumi untuk memerdekaan bangsanya. Kesadaran politik timbul setelah mereka terdidik dan sadar akan pentingnya cinta tanah air sehingga perlu membangunkan patriotisme rakyat. Yang salah satunya membentuk organisasi yang bersifat nasional.

Upaya untuk melakukan pendidikan politik serta untuk merebut kemerdekaan dari tangan kolonial adalah salah satunya dengan membentuk partai politik.

Setelah Indische Partij, kemudian muncul Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) yang juga merupakan partai poklitik pada 1927 dan kemudian menjadi Partai Nasioanal Indonesia. Beberapa tokoh bergabung dalam partai ini. Di antaranya, Dr. Tjipto Mangunkusumo, Mr. Sartono, Mr Iskaq Tjokrohadisuryo dan Mr Sunaryo dan juga Ir Soekarno.

Karena dianggap berbahaya oleh Belanda, maka tokoh-tokoh PNI kemudian ditangkap dan diadili. Dalam pengadilan itu, Ir Soekarno membacakan pledeoi yang cukup monumental, Indonesia Menggugat.

Munculnya kalangan terpelajar pada awal abad kedua puluh mempunyai kontribusi yang besar pada kemerdekaan Indonesia. Kaum terpelajar di antaranya adalah alumni dari pendidikan tinggi di negeri Belanda. Lahirnya proklamasi 1945 merupakan rentetan perjuangan sebelumnya. Dan perjuangan yang bersifat nasional sejak awal sampai pertengahan abad kedua puluh merupakan sebuah gerakan politik dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan yang saripatinya tersurat dalam pembukaan UUD 1945.

Di abad kedua puluh satu ini, yang merupakan Era Globalisasi, spirit kebangkitan nasional seperti digemakan para pendiri bangsa layak dibangkitkan kembali. Terutama dalam percaturan Politik Nasional. Sehingga, tujuan kemerdekaan yang mereka dan rakyat harapkan bisa terwujud.

Recommended For You

About the Author: Danang Munandar

Konsultan Politik pada CRESN (Center for Response on Early Strategy and Navigation), Semarang, Jawa Tengah