Membaca Kemenangan Ganjar-Heru

Membaca Kemenangan Ganjar-Heru

Banteng bermoncong putih menunjukkan keperkasaanya di Jawa Tengah. Calon Gubernur dan Wakil Gubernur diusung: Ganjar Pranowo dan Heru sudjatmoko, memenangi pilkada Jawa Tengah. Dengan perolehan 46,88 persen berdasarkan hasil hitung cepat. Semantara, pesaingnya Bibit Waluyo-Sudijono Sastroatmodjo, memperoleh 31,77 persen dan Hadi Prabowo-Don Murdono memperoleh 21,34 persen.

Pilkada Jateng merupakan ujian bagi PDIP. Mengukur sejauh mana kekuatan partai ini di kandangnya sendiri serta merupakan penyumbang suara terbanyak dalam pemilu. Pada awal penunjukan Ganjar Pranowo sebagai Calon Gubernur, sempat dipandang skeptis oleh beberapa kalangan. Karena dianggap kurang mengakar di tingkat bawah. Karena itu, akan sulit menang. Namun kenyataanya, menang telak dari pesaingnya.

Faktor penentu

Ada beberapa faktor yang menjadi penentu kemenangan Ganjar-Heru di Pilgub kali ini. Di antaranya, efektifnya mesin partai pengusung (baca: PDIP), tim sukses yang solid, serta semangat perubahan dari Ganjar-Heru dalam program kampanyenya.

Jawa Tengah selama ini memang dikenal sebagai basis PDIP. Pada pemilu sebelumnya, sejak reformasi partai ini selalu memperoleh suara terbanyak. Tidak hanya itu, dari dulu (baca: sejak kemerdekaan/orde lama) propinsi ini juga merupakan basis dari PNI yang merupakan partai berhaluan nasionalis dan memiliki hubungan historis dengan PDIP. Hampir semua kabupaten/kota di Jateng dimenangi oleh partai pimpinan Megawati ini. Di pilkada periode lalu pun, Bibit Waluyo diusung PDIP.

Dibanding partai politik lain, di Jawa Tengah PDIP mempunyai basis massa yang memiliki loyalitas tinggi, serta struktur kepengurusan yang lengkap dan tertata hingga ke tingkat desa.

Selain mesin partai, tim sukses Ganjar-Heru cuga cukup solid. Kombinasi antara tim sukses dengan mesin partai ini berjalan beriringan dan sangat efektif membangun basis massa sampai ke akar rumput. Sosialisasi yang massif secara terus menerus dalam masa kampanye terbukti bisa menaikkan popularitas.

Kemudian, tak kalah pentingya adalah figur pasangan calon. Ganjar Pranowo dan Heru Sudjatmoko. Pasangan ini dipandang sebagai calon yang mengusung semangat perubahan bagi Jawa Tengah. Ganjar dikenal publik sebagai seorang politisi yang cerdas dan bersih, sudah berkiprah di DPR RI selam dua periode. Untuk kalangan menengah atas, sosok ini tak asing lagi. Sementara, Heru Sudjatmoko adalah Bupati Purbalingga yang juga kader PDIP yang sudah matang di birokrasi pemerintahan.

Faktor eksternal

Di samping itu, ada faktor eksternal. Perlawanan kandidat lain, Bibit Waluyo-Sudiyono, dan Hadi Prabowo-Don Murdono kurang gregetnya. Serta dianggap orang lama, yang notabene bertanggungjawab terhadap beberapa kegagalan yang ada. Bibit merupakan incumbent (gubernur) sementara Hadi Prabowo Sekda Propinsi Jawa Tengah.

Dari mesin partai hingga tim suksesnya kurang solid dan tidak bisa melakukan perlawanan berarti sampai tingkat bawah. Sementara, gabungan partai yang mendukung tak terhimpun menjadi kekuatan besar. Justru menjadi polemik di dalamnya. Sebagai incumbent, Bibit dinilai kurang berhasil menjabarkan visi misinya. Ditambah lagi beberapa kasus perselisihanya. Misalnya, dengan Jokowi masih menjabat Walikota Solo, serta komentarnya yang menyinggung kesenian Jathilan, juga berpengaruh citranya di publik.

Sementara, calon Wakil Gubernur yang mendampingi kedua pasangan ini kurang populis dan tidak bisa menambah elektabilitas.

Kemenangan Ganjar-Heru merupakan bukti masih kuatnya pengaruh PDIP di Jawa Tengah. Apalagi, Ganjar-Heru adalah kader murni PDIP. Kedepan, hasil pilkada ini akan berdampak pada elektabilitas partai banteng bermoncong putih pada pemilu 2014.

Recommended For You

About the Author: Danang Munandar

Konsultan Politik pada CRESN (Center for Response on Early Strategy and Navigation), Semarang, Jawa Tengah