Pilgub Bali, Menimbang Kekuatan PDIP

Pilgub Bali dan Kekuatan PDIPPemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Bali pada Rabu (15/5) kemarin berlangsung istimewa. Hal itu terlihat dari sisi pelaksanaan maupun perhelatan politiknya. Sebagai daerah tujuan wisata dunia, Bali senantiasa menunjukkan kekhasan budayanya, hal yang sama ditunjukkan pula dalam pilkada.

Persaingan ketat juga mewarnai perhelatan politik ini. Berbeda dengan daerah lain, Pasangan calon Gubernur dan wakil Gubernur hanya dua. Anak Agung Ngurah Puspayoga-Dewa Nyoman Sukrawan yang diusung PDIP dan Made Mangku Pastika-Ketut Sudikerta yang diusung Partai Demokrat, Partai Golkar dan beberapa partai lain.

Kedua Calon Gubernurnya adalah incumbent. I Made Mangku Pastika adalah Gubernur yang sedang menjabat. Sementara, Anak Agung Ngurah Puspayoga adalah Wakil Gubernur. Selain itu, partai politik pendukungnya juga terbagi dalam dua kubu yang relatif sama kuat.  PDIP melawan Golkar, Demokrat serta beberapa partai.

Sementara, Bali dikenal basis PDIP. Pilkada sebelumnya, Gubernur terpilih , I Made Mangku Pastika yang berpasangan dengan Puspayoga) diusung oleh PDIP.

Pertarungan di pulau Dewata kali ini, memperebutkan suara dari 2.925.679 warga Bali yang terdaftar dalam daftar pemilih dan tersebar di 6.371 tempat pemilihan suara (TPS). Provinsi yang merupakan barometer pariwisata ini, terdiri dari 9 kabupaten/kota. Denpasar, Badung, Tabanan, Jembrana, Buleleng, Bangli, Karangasem, Klungkung, dan Gianyar.

Dengan peta politik yang ada, tidak mengherankan bila perolehan suara selisih tipis.  Bahkan, kedua kubu mengklaim sebagai pemenang. Namun, hasil hitung cepat (quick qount) yang dilakukan oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyatakan, Puspayoga unggul dengan raihan 50,31 persen suara. Sedangkan Made Mangku Pastika, 49,69 persen suara.

Hasil ini tidak jauh beda dengan yang dilakukan oleh PDIP. Di mana, Anak Agung Ngurah Puspayoga-Dewa Nyoman Sukrawan meraup suara 50,7 persen. Made Mangku Pastika-Ketut Sudikerta meraih suara 49,3 persen.

PDIP dan Bali

Bali dan PDIP memang memiliki hubungan istimewa. Sebagai partai nasionalis, PDIP merupakan tempat bagi sebagian besar orang Bali yang mayoritas Hindu menyalurkan aspirasi politiknya. Di samping itu, partai ini merupakan besutan Megawati yang hingga saat ini menjadi ketua umum.

Di Bali, Bung Karno dianggap sebagai titisan Dewa Wisnu. Secara biologis mempunyai darah Bali. Ibu Bung Karno, Ida Ayu Nyoman Rai, merupakan bangsawan Bali. Keponakan dari raja Singaraja terakhir.

Dengan istiadat yang masih kental di Bali, turut berpengaruh terhadap perilaku pemilih. Baik pemilu maupun pilkada. Sehingga, PDIP selalu menang dalam pemilu. Ditamba, instruksi Megawati masih berpengaruh terutama dalam pilkada.

Pilkada di Bali kali ini, PDIP berupaya untuk mencalonkan kadernya sendiri. Baik calon gubernur maupun wakilnya. Puspayoga yang merupakan politikus dan kader di partai serta menjabat wakil gubernur incumbent sudah teruji loyalitasnya terhadap PDIP. Sementar, calon wakil gubernurnya, Dewa Nyoman Sukrawan, merupakan Ketua DPRD Kabupaten Buleleng.

Hasil penghitungan suara selisih tipis itu, tentu rawan gugatan dan perselisihan. Namun, bagi masyarakat Bali yang mengutamakan harmoni serta menjunjung tinggi norma dan adat istiadat, bisa dipastikan akan diselesaikan secara damai.

Recommended For You

About the Author: Danang Munandar

Konsultan Politik pada CRESN (Center for Response on Early Strategy and Navigation), Semarang, Jawa Tengah