BLSM dan Jati Diri Berdikari

BLSM dan Kemandirian Bangsa
BLSM dan Kemandirian Bangsa

Laksana menanti hujan di musim kemarau, begitulah harapan masyarakat yang dikategorikan miskin terhadap datangnya Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Walaupun tidak seberapa jumlah uang yang didapat, bagi kalangan masyarakat bawah hal itu sangat berarti. Susahnya hidup serta melambungnya harga seolah seirama dalam belenggu kemiskinan.

Pembagian BLSM merupakan kompensasi dari pemerintah terhadap dampak kenaikan harga BBM. Pengurangan susbsidi harus dilakukan karena dinilai memberatkan APBN, dan tidak tepat sasaran. Rapat Paripurna DPR sudah mengesahkan APBN Perubahan 2013. BBM naik tentu tidak bisa dihindari. Dan kenaikan BBM berimbas pada kenaikan harga lainnya terutama kebutuhan pokok.

Kompensasi BLSM menjadi agenda rutin pemerintahan SBY ketika BBM naik. Dulu dikenal dengan istilah Bantuan Langsung Tunai (BLT). Dan entah kenapa istilahnya harus diubah, padahal sebenarnya esensinya sama.

Pemberian BLSM di satu sisi menguntungkan dan perlu bagi masyarakat yang membutuhkan. Namun di sisi yang lain terasa kurang tepat. Nominal yang tidak seberapa tersebut akan tidak berbekas dan habis dengan cepat. Di samping itu kalau dilihat dari segi pembangunan karakter bangsa tentu tidak baik. Pemerintah seakan merusak mentalitas rakyatnya. Bantuan tersebut lebih pada memberi ikan bukan kail pada manusia.

Sebenarnya kalau kita mau membangun karakter bangsa dan meningkatkan taraf hidup masyarakat untuk jangka panjang, lebih tepat kiranya kalau bantuan tersebut dengan cara memberi kail kepada orang yang tidak mampu, bukan memberi ikannya.

Jati diri bangsa yang mulai terkoyak membutuhkan kemandirian bangsa yang dimulai dari kemandirian masyarakatnya. Menumbuhkan mentalitas positif dan unggul pada manusia Indonesia merupakan tanggung jawab pemerintah dan para pemimpin bangsa. Membangun karakter yang kuat pada rakyatnya dalam rangka membangun karakter bangsa adalah sebuah agenda utama sebagaimana yang sudah dicontohkan oleh para pendiri bangsa.

BLSM Melemahkan Kemandirian

Di awal kemerdekaan Presiden Soekarno sudah sering kali mengungkapkan pentingya karakter bangsa. Kemandirian melalui berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), serta mengangkat harkat dan martabat bangsa selalu dipupuk dan ditumbuhkembangkan. Dalam beberapa pidatonya, Bung Karno selalu mengatakan pentingnya self reliance, no mendicancy (percaya pada kekuatan sendiri, jangan jadi pengemis).

Pemberian BLSM dikhawatirkan akan menimbulkan efek ketergantungan bagi si penerima. Jumlah uang yang tidak seberapa tersebut, tidak akan berdampak pada kesejahteraannya. Namun kalau kita akumulasikan secara nasional nominal tersebut jumlahnya lumayan besar. Dan dana itu akan lebih baik kalau digunakan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat untuk kepentingan jangka panjang. Misalnya perbaikan dan pembangunan infrastruktur atau memperbaiki pelayanan publik. Selain itu juga melakukan penguatan program pemberdayaan masyarakat kurang mampu.

Bagi-bagi uang dalam bentuk BLSM juga menimbulkan prasangka politik. Terlebih momentumnya menjelang pemilu. Terlepas benar tidaknya opini dan prasangka tersebut, dari sisi politik pemerintah telah melakukan pendidikan politik yang tidak baik bagi rakyatnya.

Pengurangan atau bahkan penghilangan subsidi BBM sebenarnya sah-sah saja. Apalagi selama ini subsidi tersebut salah kaprah dan tidak tepat sasaran. Namun yang perlu diperhatikan adalah pengalihan subsidi tersebut dalam bentuk yang tepat dan dapat dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan. Welfare state perlu diwujudkan sebagai bentuk implementasi dari hakikat mendirikan negeri ini.

 

Recommended For You

About the Author: Danang Munandar

Konsultan Politik pada CRESN (Center for Response on Early Strategy and Navigation), Semarang, Jawa Tengah