Kepergian Taufik Kiemas dan Masa Depan PDIP

PDIP

Setelah ditinggalkan Taufik Kiemas, PDIP memasuki babak baru. Eksistensinya sebagai partai politik yang cukup berpengaruh dalam percaturan politik tanah air tentunya tetap dipertahankan.

Partai ini kehilangan sosok yang bertindak sebagai king maker. Posisi Taufik Kiemas sebagai suami Megawati sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan partai tentunya menjadikan kiprah politiknya semasa hidup cukup berarti.

Dalam tubuh partai berlambang banteng moncong putih, Megawati merupakan figur sentral. Selain sebagai Ketua Umum, partai ini menempatkan sosoknya sebagai ikon yang karismanya dijunjung tinggi oleh segenap kader partai. Dalam lingkaran dekat Megawati terdapat Taufik Kiemas yang berkontribusi besar terhadap segala kebijakan yang diambil olehnya. Bisa dibilang, partai ada pada kendalinya. Sehingga di tataran elite, PDIP sangat bergantung pada ketokohannya.

Peran Taufik Kiemas dalam PDIP tidak bisa dipungkiri. Pengalamanya sebagai politisi senior yang sudah merintis karier sejak lama membuat dirinya cukup matang dalam berpolitik. Perannya cukup menonjol, terlebih ketika Megawati menjabat sebagai presiden.

Sebenarnya, sejak awal Taufik Kiemas sudah mempersiapkan anaknya, Puan Maharani, untuk meneruskan estafet kepemimpinan, menggantikan Megawati. Terlebih PDIP dikenal sebagai partai di mana tirani dan dinasti masih mendominasi.

Dalam percaturan politik tanah air, PDIP merupakan partai politik besar, baik secara organisatoris maupun hasil perolehannya dalam pemilu. Sejak pemilu di Era Reformasi, di setiap pemilu perolehan suaranya cukup signifikan.

Pemilu 1999, partai ini menjadi pemenang dengan memperoleh suara sebanyak 33,74 persen. Sementara pemilu 2004, PDIP memperoleh suara 18,53 persen dengan mendudukannya pada peringkat kedua di bawah Partai Golkar. Pemilu 2009 yang menempatkan Partai Demokrat sebagai pemenang, perolehan PDIP menempati peringkat ketiga dengan perolehan 14,03 persen, berselisih tipis dari Partai Golkar yang menempati peringkat kedua. Hal ini menunjukkan kalau selama pemilu di Era Reformasi posisinya selalu menduduki peringkat tiga besar dengan perolehan yang cukup signifikan.

Menuju Partai Modern

Dibanding partai politik lainnya, PDIP terbilang partai yang solid. Pendukungnya mempunyai loyalitas yang tinggi, baik terhadap partai maupun pimpinannya. Sementara perangkat dan infrastruktur partainya bisa dibilang lengkap dari tingkat DPP sampai ke ranting. Untuk beberapa daerah partai ini memperoleh suara mayoritas. Dan dalam beberapa pilkada menempatkan calon yang diusungnya meraih kemenangan.

Selepas kepergian Taufik Kiemas tentunya tidak menyurutkan semangat Partai Moncong Putih dalam menyambut Pemilu 2014 yang tidak lama lagi. Partai ini mempunyai peluang yang besar untuk menang dengan mendulang suara terbanyak. Beberapa pijakan yang ditinggalkan oleh tokoh ini bisa menjadi modal dasar untuk kembali berbenah. Kader partai yang mumpuni dan hasil didikannya merupakan aset berharga untuk kemajuan partai.

Untuk kembali menjadi pemenang dalam pemilu nanti tentunya hajat besar bagi partai besutan Megawati yang itu bisa digalakkan oleh segenap elemen partai. Hal mendasar yang patut dikembangkan adalah dengan menguatkan kembali ideologi partai. Selama ini PDIP dikenal sebagai partai yang mengusung ideologi nasionalis. Dan warna ini perlu kembali ditekankan pada seluruh kader terutama yang duduk di parlemen untuk menjadikan hal ini sebagai identitas perjuangannya.

Hal lain yang kiranya perlu untuk dibangkitkan adalah keterkaitan partai ini dengan tokoh Soekarno. Patronase PDIP dengan Soekarno tidak hanya sebatas faktor biologis karena Megawati sebagai anak Soekarno. Paham nasionalis di Indonesia selama ini merujuk pada Soekarnoisme yang pada era sekarang secara politis ada pada PDIP, walaupun pada kenyataanya belum terimplementasikan secara utuh. Dan inilah yang merupakan agenda penting bagi partai ini untuk mencoba membangkitkannya kalau ingin mendapat simpati dari publik.

Dinamika politik sekarang yang selaras dengan kemajuan zaman mengharuskan partai politik untuk berbenah dan menyikapinya secara cerdas sekaligus menuntut agar partai dikelola secara modern. Menuju partai modern tentu merupakan suatu keniscayaan bagi PDIP kalau ingin tetap eksis dan besar di tengah persaingan dengan partai politik lain. Hal itu mencakup manajemen partai, pola suksesi, serta kebijakan, dan keputusan partai.

Salah satu cara untuk menuju partai modern adalah dengan mencoba mengurangi tirani dalam tubuh partai politik. Karena dalam alam demokrasi bentuk tirani serta oligarki sudah tidak relevan. Sementara PDIP merupakan partai yang mempunyai corak ini, dengan menempatkan Megawati sebagai poros utama.

Sudah selayaknya kalau faktor ketokohan Megawati dalam tubuh PDIP mulai dikurangi. Sebagai partai yang mengklaim demokratis tentunya akan terasa kontradiktif bila kultus idividu masih mendominasi.

Namun di sisi lain, ketokohan dan klan Soekarno dirasa masih diperlukan untuk memperkuat ideologi partai. Dan alangkah lebih baiknya kalau keluarga trah Soekarno serta kaum Soekarnois bergabung dalam wadah PDIP.

Sebagai partai politik yang mempunyai massa besar dengan loyalitas tinggi, semestinya di tataran elite PDIP terdapat tokoh-tokoh yang menjadi think tank yang selama ini diwakili oleh sosok Taufik Kiemas. Dan diharapkan ke depannya bisa tergantikan oleh beberapa tokoh di lingkaran dalam Megawati yang mempunyai andil dalam menelurkan berbagai kebijakan strategis.

Munculnya beberapa tokoh muda yang mempunyai kapasitas intelektual memadai dalam PDIP diharapkan memberi warna baru bagi kemajuan partai.

Partai yang kuat, mapan, solid, baik secara organisatoris maupun ideologis tentunya merupakan dambaan setiap partai politik, tak terkecuali PDIP. Kepergian Taufik Kiemas untuk selama-lamanya semestinya tidak akan membuat PDIP menjadi goyah tapi semakin mendewasakan elit partai berlambang banteng moncong putih.

Recommended For You

About the Author: Danang Munandar

Konsultan Politik pada CRESN (Center for Response on Early Strategy and Navigation), Semarang, Jawa Tengah