Pancasila dan Sosialisasi Empat Pilar

Pancasila dan Sosialisasi Empat PilarDalam lawatannya ke New York, Amerika Serikat. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima penghargaan dari World Statesman Award organisasi nirlaba Appeal of Conscience Foundation (ACF), karena dinilai berhasil menciptakan perdamaian dan toleransi, serta mampu menegakkan HAM dan melindungi kaum minoritas di Indonesia.

Menurut hemat penulis, penghargaan yang diberikan lembaga asing kepada SBY, lepas dari pro-kontra di dalam negeri, sebetulnya merupakan pujian buat bangsa Indonesia terhadap pandangan hidup bangsanya. Yang enam puluh delapan tahun lalu (1 juni 1945) telah dicetuskan Presiden Soekarno.

Sebagai sebuah ideologi bangsa yang secara de facto sudah mengakar di bumi Nusantara sejak ratusan tahun lalu, pancasila dipandang sebagai alat menciptakan perdamain dan toleransi di Indonesia. Kutipan dari Kakawin Sutasoma yang digubah oleh Mpu Tantular pada abad ke 14: Bhinneka Tunggal Ika menjadi tag line negeri ini.

Dalam pidatonya di PBB, Presiden Soekarno pernah menawarkan alternatif perdamaian dunia.  Pidato to build the world a new itu menjadikan pancasila sebagai konsepsi mewujudkan dunia baru tanpa eksploitasi manusia atas manusia, dan eksploitasi bangsa atas bangsa lain.

Menyadari Indonesia sebagai negara majemuk dan multikultur, Soekarno menggali pancasila yang selaras dengan konteks keragaman masyarakat Indonesia. Indonesia memerlukan bangunan dasar yang kokoh agar tak mudah tercerai. Dasar ini disarikan dengan kata pancasila: Panca dan sila. Lima asas dalam bahasa Sansekerta.

Dalam sejarahnya, kemerdekaan dan dasar negara mempunyai keterkaitan yang erat. Founding fathers kita menganalogikan merdeka dengan sebuah jembatan, dan diharapkan di seberang jembatan itu akan didapatkan kesejahteraan dengan menyempurnakan masyarakat, yang hasilnya bisa dinikmati oleh segenap rakyat Indonesia. Untuk membangun Indonesia merdeka yang kokoh, diperlukan fondasi (baca: dasar) kuat yang diambil dari nilai-nilai luhur bangsa.

Ketika Pancasila diterapkan sebagai dasar negara serta ideologi bangsa, diharapkan bisa mengatasi persoalan kemajemukan. Semestinya, segenap elemen bangsa memiliki komitmen menerapkan nilai-nilai yang terkandung di pancasila itu. Sehingga, tak hanya lip service yang maknanya tereduksi, oleh kepentingan tertentu.

Sosialisasi empat pilar

Sosialisasi empat pilar (baca: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945, NKRI,) yang didengung-dengungkan MPR belum lama ini sebetulnya merupakan upaya elite negara untuk kembali meneguhkan kembali jati diri bangsa yang saat ini mulai terkoyak.

Untuk membumikan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, perlu mengembalikan makna aslinya seperti disampaikan Bung Karno dalam pidato 1 juni 1945. Penyampaian sejarah secara utuh mengenai pancasila, serta makna filosofisnya mesti ditanamkan kepada generasi bangsa terutama pelajar dan mahasiswa.

Kita tahu, lima dasar yang merupakan prinsip Indonesia merdeka sesungguhnya bersifat abadi. Prinsip kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan, hanya bisa diaktualisasi dengan perjuangan dan kebersamaan. Saripati dari perasan kelima prinsip dasar itu adalah gotong royong yang merupakan paham dinamis sudah ada sejak dahulu. Yang menggambarkan suatu usaha bersama untuk kepentingan bersama pula.

Nilai sosio-nasionalisme; sosio-demokrasi dan ketuhanan yang terkandung dalam pancasila perlu diimplentasikan untuk mengatasi problem intoleransi yang merasahkan akhir-akhir ini. Perlu upaya serius para elite negara lebih sensitif menyelesaikan persoalan bangsa.

Aktualisasi dari pancasila di tengah kompleksitas Era Globalisasi ini membutuhkan semangat baru. Elite Negara, para politisi maupun pejabat pemerintah mempunyai kewajiban untuk merealisasikan amanah ini. Melakukan pendidikan politik yang elegan secara massif di akar rumput merupakan suatu bentuk menyempurnakan masyarakat seperti yang diharapkan founding fathers kita.

Recommended For You

About the Author: Danang Munandar

Konsultan Politik pada CRESN (Center for Response on Early Strategy and Navigation), Semarang, Jawa Tengah