Kudeta Mesir dan Implikasinya terhadap Indonesia

Kudeta Mesir/mrconservative.com
Kudeta Mesir/mrconservative.com

Baru berjalan setahun, pemerintahan Morsi berakhir paksa setelah militer pimpinan Panglima Angkatan Bersenjata Mesir, Jenderal Abdel Fatah Al Sisi, melakukan kudeta, Rabu malam (3/7/2013) waktu setempat atau Kamis dini hari WIB dengan mengumumkan peta jalan bagi masa depan Mesir. Ketua Mahkamah Konstitusi, Adli Mansour, kemudian ditetapkan sebagai presiden sementara untuk melaksankan tugas-tugas kepresidenan.

Sebagai Presiden Mesir, Mohammed Morsi dipilih secara demokratis melalui pemilu setelah kejatuhan Husni Mubarok yang mengundurkan diri pada 11 Februari 2011 akibat tuntutan aksi unjuk rasa besar-besaran. Pada Pemilihan Presiden bulan Mei 2012, Morsi memenangkan hampir 25 persen suara dalam putaran pertama pemilihan presiden, melebihi calon lainnya. Dan pada putaran kedua Morsi memperoleh 52 persen suara, dan mulai menjabat pada 30 Juni 2012.

Dalam dunia politik, karier politik Morsi yang berhaluan Ikhwanul Muslimin cukup bagus, dengan terpilih menjadi anggota parlemen pada tahun 2000 dari jalur independen. Saat itu, Ikhwanul Muslimin dilarang di Mesir.

Setelah Husni Mubarak jatuh, kelompok Ikhwanul Muslimin mendirikan Partai Kebebasan dan Keadilan sebagai sayap politiknya. Pada mulanya partai ini memilih Khairat el-Shater menjadi calon Presiden tapi didiskualifikasi karena tidak memenuhi syarat, dan sebagai gantinya kemudian mencalonkan Morsi.
Selama setahun kepemimpinan Morsi perpolitikan Mesir diwarnai ketegangan antara Ikhwanul Muslimin dan kaum oposisi. Kaum oposisi menilai presiden telah gagal dan justru memecah-belah Mesir.

Dalam diskursus perpolitikan Mesir mengemuka beberapa faktor yang membuat gerakan anti Morsi semakin menguat, di antaranya dominasi Ikhwanul Muslimin, memburuknya ekonomi, dekrit Presiden 22 November 2012, dan pelanggaran demokrasi dan HAM. Pada awal 2013 muncul gerakan yang menamakan dirinya `Tamarod`, dan menggulirkan petisi untuk menggulingkan Mursi.

Tamarod dan Indonesia

Penggulingan Morsi dari presiden nyatanya didukung oleh beberapa tokoh dan gerakan Tamarod. Hal ini bisa dilihat ketika mengumumkan pengambilalihan kekuasaan, Panglima Angkatan Bersenjata Mesir Jenderal Abdul Fatah al-Sisi, didampingi oleh ulama Al-Azhar, pemimpin Gereja Kristen Koptik, pemimpin oposisi Muhammad el-Baradei, pemimpin Partai Islam Nour, dan tokoh gerakan Tamarod yang mengorganisasi aksi unjuk rasa di Lapangan Tahrir.

Bagi Indonesia, Mesir merupakan negara sahabat yang mempunyai keterkaitan istimewa, karena merekalah negara pertama di dunia yang mengakui kedaulatan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Selain itu, banyak warga negara kita yang menuntut ilmu di Universitas Al Azhar, Kairo. Ketidakstabilan politik di Mesir tentunya membuat keprihatinan kita.

Kekhawatiran negara lain terutama Indonesia terhadap kondisi Mesir adalah pengaruhnya terhadap kenaikan harga minyak dunia, mengingat letak geografisnya di sekitar lalu lintas minyak dunia. Dan ini akan berdampak pada ketahanan fiskal nasional serta berdampak buruk bagi pertumbuhan ekonomi.

Dari sisi politik juga memberikan pelajaran bagi Indonesia tentang jalannya sebuah pemerintahan dan dinamika politik. Hasil proses politik melalui pemilu yang mempunyai legitimasi resmi tidak selamanya akan berjalan mulus.

Perpolitikan Mesir dalam waktu dekat akan memanas, karena bagaimana pun juga Morsi mempunyai pendukung yang lumayan besar. Salah satu jalan yang akan ditempuh oleh pemerintahan sementara sekarang ini adalah memanfaatkan militer untuk bersikap represif. Dan pemilu yang dipercepat merupakan solusi yang akan diambil walaupun nantinya perseteruan politik akan semakin masif. Partai Kebebasan dan Keadilan yang merupakan wadah politik dari kelompok Ikhwanul Muslimin akan melakukan perlawanan dan semakin militan.

Recommended For You

About the Author: Danang Munandar

Konsultan Politik pada CRESN (Center for Response on Early Strategy and Navigation), Semarang, Jawa Tengah