Pilkada Jatim: Bila NU Belum Tentu Sama

Pilkada Jatim/regional.kompas.com
Pilkada Jatim/regional.kompas.com

Perhelatan politik di Jawa Timur yang berlangsung kamis (29/8/2013) dalam rangka memilih gubernur dan wakil gubernur usai sudah. Walaupun hasil resmi perolehan suaranya belum selesai, namun hasil quick count menunjukkan kalau calon incumbent, pasangan Soekarwo dan Saifullah Yusuf (KarSa) unggul dengan perolehan 47,91 persen suara.

Disusul dengan pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman Suryadi Sumawiredja dengan 37,76 persen. Sedangkan Bambang DH-Said Abdullah meraup 11,95 persen. Dan untuk pasangan calon dari jalur independen (perseorangan), yakni pasangan Eggi Sudjana-M. Sihat, hanya memperoleh 2,38 persen.

Signifikannya Faktor Incumbent

Sejak awal pelaksanaan Pilkada Jatim ini, KarSa memang diunggulkan. Kandidat lain dinggap tidak akan ada yang mampu mendandingi. Hanya sosok Khofifah yang mampu bersaing. Dan di awal proses pencalonan dirinya pada pilkada telah terganjal dan dicoret oleh KPU Jatim dengan adanya dukungan ganda. Namun akhirnya, mereka berhasil menjadi peserta pilgub setelah gugatannya dikabulkan.

Kemenangan KarSa tentu tidak mengherankan. Bagaimana tidak, kandidat ini didukung oleh 32 partai politik, baik itu partai politik parlemen maupun partai politik non-parlemen (baca: gurem). Dengan dukungan politik sebanyak itu tentu akan lebih memudahkan teknis operasional tim di lapangan serta penggalangan dukungan.

Di samping itu, sebagai petahana (incumbent) KarSa mempunyai banyak keuntungan. Salah satunya dengan memanfaatkan jaringan birokrasi. Tidak cuma itu, berbagai fasilitas serta posisinya sebagai gubernur dan wakil gubernur selama satu periode sudah barang tentu merupakan proses kampanye yang terus-menerus. Dan selama menjabat mereka berdua dianggap relatif bersih dari kasus.

Terlebih lagi, keduanya, baik Soekarwo maupun Saifullah Yusuf, tetap kompak dan tidak pecah kongsi. Tidak seperti halnya di daerah lain yang gubernur dan wakil gubernurnya maju sendiri-sendiri dalam pilkada. Rupanya Gus Ipul (panggilan akrab Saifullah Yusuf) rela bersabar untuk tetap menjadi wakil gubernur. Baru periode depan sudah dipastikan kalau dirinya maju sebagai gubernur.

Faktor lain yang menjadi penentu kemenangan KarSa adalah kurangnya perlawanan yang berarti dari kandidat lain. Rival kuat sebenarnya adalah Khofifah. Namun sejak awal dirinya sudah dijegal. Walaupun akhirnya bisa maju sebagai calon gubernur, tapi kesiapan serta daya geraknya semakin terbatas. Pihak KarSa sudah barang tentu mengeliminasi gerak politik lawan bebuyutannya ini. Mengingat pada Pilkada Jatim terdahulu, selisih kedua kandidat ini sangat tipis, bahkan sampai dua putaran. Tidak cuma itu, bisa dibilang tiga putaran, karena setelah gugatannya dikabulkan Mahkamah Konstitusi, perlu dilakukan pemilihan ulang di Madura, yakni di Bangkalan dan Pamekasan.

Dukungan NU yang Tidak Tertebak

Jawa Timur selama ini dikenal sebagai kantong massa NU, sehingga kandidat berusaha mendapatkan dukungan dari Kaum Nahdiyin. Dan bagi kandidat yang berasal dari ormas ini tentunya akan meraih suara signifikan. Pihak KarSa sendiri sejak awal sudah meggalang dukungan dari tokoh tokoh NU. Calon wakil gubernurnya sendiri adalah tokoh NU. Gus Ipul saat ini menjadi salah satu pengurus di PB NU dan mantan Ketua GP Anshor, organisasi kepemudaan NU. Selain itu, dirinya juga kerabat dari pendiri NU, KH. Hasyim Asyari.

Sementara itu, di pihak lain, Khofifah yang suaranya signifikan juga kader NU. Dirinya merupakan Ketua Muslimat NU, sebuah organisasi wanita di NU.

Pilkada Jatim merupakan pilkada provinsi penutup sebelum Pemilu 2014, terutama di Jawa. Hal ini dimanfaatkan oleh partai politik serta elite Jakarta untuk mengukur kesiapan menjelang pemilu nanti. KarSa yang didukung oleh gabungan partai politik, lebih menekankan kalau dirinya merupakan representasi dari Demokrat, mengingat Soekarwo adalah ketua DPD Demokrat Jawa Timur. Sementara partai lain cenderung cari aman untuk mendukung KarSa. Ditambah lagi dukungan dari NU.

PKB sebagai partai terbesar di Jawa Timur dan representasi politik dari NU harus merelakan kekalahannya dengan mencalonkan kadernya sendiri (baca: Khofifah), karena berhadapan dengan kelompok besar.

Recommended For You

About the Author: Danang Munandar

Konsultan Politik pada CRESN (Center for Response on Early Strategy and Navigation), Semarang, Jawa Tengah