Refleksi Kemerdekaan: Jembatan Emas Setelah 68 Tahun

Ilustrasi Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia ala Google/plentiswae.wordpress.com
Ilustrasi Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia ala Google/plentiswae.wordpress.com

Tidak terasa, sudah 68 tahun usia republik ini. Berbagai haru biru mewarnai perjalanan bangsa dalam menapaki kehidupan, dibarengi pergantian iklim politik serta rezim yang silih berganti. Namun tampaknya, Indonesia masih dirundung kegalauan.

Menjadi sebuah bangsa yang merdeka adalah harapan para pendiri bangsa dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat. Hal itu terukir dalam pembukaan konstitusi; sebuah rumusan yang secara tidak langsung menyangkut konsepsi masa depan bangsa kita.

Sebagai bangsa yang besar dan memperoleh kemerdekaan dengan keringat sendiri, Indonesia mempunyai modal besar untuk maju, tidak sekadar sebagai Macan Asia, tapi juga dalam percaturan dunia internasional. Dibandingkan dengan negara lain yang memperoleh kemerdekaan karena pemberian penjajahnya, negara ini mendapatkan kemerdekaan hasil keringat perjuangan, serta olah pikir para pejuang bangsa, baik secara diplomasi, politik, maupun angkat senjata.

Perjuangan Kemerdekaan Bertabur Tokoh Berdedikasi

Kalau kita melihat perjalanan perjuangan anak bangsa dalam mendirikan bangsa tentu sangat membanggakan. Terlebih bila dibandingkan dengan perilaku penerusnya sekarang ini. Para pendiri bangsa merupakan pemikir dan tokoh intelektual yang kenyang ilmu pengetahuan serta berbagai pergulatan pemikiran. Kalau seandainya mereka mau bersikap pragmatis tentu mereka akan mendapatkan segala fasilitas dari pemerintah kolonial. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat serta spirit para tokoh untuk memerdekakan bangsanya.

Para pejuang bangsa bergerak lebih terarah setelah memasuki abad ke-20 di mana mereka banyak yang mengenyam pendidikan tinggi, bahkan beberapa di antaranya adalah alumnus perguruan tinggi di Belanda yang sudah aktif menyuarakan kemerdekaan sejak masih menempuh studi.

Pergulatan ide, wacana, serta pengetahuan kemudian mengkristal menjadi sebuah gerakan, baik yang bersifat kooperatif maupun non-kooperatif. Beberapa di antaranya mendirikan organisasi massa atau pun partai politik sebagai wadah perjuangan. Dan bukan perkara mudah berkecimpung dalam ranah politik yang mempunyai haluan berseberangan dengan pemerintah kolonial. Sehingga penangkapan dan penjara menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari.

Perjuangan yang tidak kenal lelah terhadap kemerdekaan serta upaya untuk membangun bangsa sendiri akhirnya menuai hasil. Ditambah lagi kondisi dunia internasional yang dilanda perang di mana-mana serta perlawanan negara jajahan atas kolonialisme dan imperalisme di berbagai belahan dunia turut mempengaruhi dan berdampak pada kondisi politik tanah air. Kekalahan Belanda atas Jepang kemudian disusul kekalahan Jepang atas Sekutu di satu sisi, menguntungkan perjuangan bangsa.

Titik klimaksnya adalah Proklamasi 17 Agustus 1945 dengan Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai tokoh sentralnya. Sebuah deklarasi atas berdirinya sebuah negara yang membentang di sekitar khatulistiwa, di mana karena kekayaan alamnya selalu menjadi incaran kaum kolonialis dan imperialis.

Jembatan Emas yang Tak Kunjung Sesuai Harapan

Sejak awal, Soekarno sudah mengatakan bahwa merdeka adalah sebuah jembatan, bahkan jembatan emas. Di seberang jembatan itu akan diperbaiki dan dilengkapi serta dibangun bangsa ini menjadi lebih baik.

Setelah 68 tahun di seberang jembatan, tampaknya harapan para pendiri bangsa belumlah terwujud. Menjadi tugas dan tanggung jawab kita untuk merealisaikan hal itu, terutama bagi para pemimpin dan politisi yang mempunyai berbagai otoritas dan kewenangan.

Kolonialisme dan imperalisme yang dahulu ditentang dan dihapus dari negeri ini ternyata kini menjelma kembali dalam bentuknya yang lain.

Recommended For You

About the Author: Danang Munandar

Konsultan Politik pada CRESN (Center for Response on Early Strategy and Navigation), Semarang, Jawa Tengah