Bertanding Kualitas dalam ASEAN Community

ASEAN Community 2015/gunklaten.com
ASEAN Community 2015/gunklaten.com

Belakangan, gaung ASEAN Community seperti menghipnotis elite republik. Apa iya kita bisa bertanding dengan negara anggota ASEAN lainnya. Tentu dengan perihal sesungguhnya.

Mari memulainya.

Sebenarnya, apa yang kurang dari bangsa ini? Benar, bangsa ini sangat kaya. Sulit rasanya berkata bahwa bangsa ini kekurangan. Sayangnya, kekayaan alam yang melimpah ruah dan penduduk yang besar ternyata tidak mampu mengangkat krisis bangsa kepada situasi yang lebih baik.

Sepertinya bangsa ini sangat kurang komitmen bersyukur, ikhlas, dan menghamba pada Tuhannya. Sepertinya bangsa ini larut pada ambisi kelompok hingga kemudian sulit menyatukan kepentingan untuk membangun kebersamaan agar masalah segera terpecahkan dan teratasi.

Membangun kualitas manusia Indonesia dengan pendidikan adalah harga mati. Kesimpulan ini sederhana, sering diucapkan, diyakini, sulit dibantah, tapi sangat susah mempraktikannya.

Berapa banyak argumen disusun untuk memahamkan publik negeri ini bahwa bagaimana pun kondisinya, pendidikan harus tetap diutamakan?

Tapi sudahlah. Rasanya bukan hal penting lagi membicarakan krusialnya pendidikan. Lelah juga berjibaku dialektika pikir kalau semua masih di awang-awang.

Berkompetisi dengan Identitas

Ada pertanyaan sederhana. Untuk berhadapan dengan Microsoft, apakah hacker-hacker Indonesia yang dianggap sebagai kaum pembajak kelas wahid kedua setelah China, dapat menemukan sistem komputer baru untuk membungkam soft waresoft ware mereka?

Untuk bersaing dengan Pentagon, sanggupkah negeri ini memproduksi bambu runcing digital yang dapat menenggelamkan kapal induk berkekuatan 800 pesawat tempur dengan daya jelajah 20 tahun di lautan?

Atau untuk membayar utang, dapatkah orang-orang negeri ini menandingi George Soros di bursa saham internasional agar rupiah tiba-tiba menguat dan harga-harga menjadi murah?

Jawabannya, jelas tidak mungkin. Analoginya, saat ini orang-orang Indonesia tengah berlari dan diikuti orang-orang Barat, padahal mereka telah dua kali berputar mengelilingi bumi. Derajat kompetisinya sudah tak seimbang. Artinya, bila hanya diukur dari perspektif kasat mata, jelas tak akan sebanding.

Untuk itu, diperlukan keberanian pengakuan diri tentang ketertinggalan bangsa ini dari Barat perihal banyak hal, lantas kembali merombak cara pandang agar dapat menghindar dari eksploitasi yang terus mereka gelar, baik eksploitasi halus atau invasi fisik. Menolak semua hal berbau Barat jelas tidak mungkin, tapi menerima cara pandang Barat apa adanya tentu lebih naif lagi.

Sampai di sini, sangat tampak bahwa identitas diri jelas bukan perkara fisik. Meski ia akan memobilisasi fisik untuk beraktivitas, identitas lahir dari cara pandang seseorang tentang sesuatu. Cara pandang tersebut dapat disebut dengan nilai, ideologi, atau cita-cita keadilan dunia, dan setiap orang pasti memilikinya.

Artinya, kualitas manusia adalah perkara cara pandang. Ia bukan komoditas bisnis, apalagi basis politik. Di sanalah upaya penanaman nilai dilakukan, dengan atau tanpa uang. Setelahnya, bukan hanya ASEAN yang perlu risau akan mobilitas kita, pun dunia.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.