Derby Putra Solo dalam Asumsi Survei Pilpres 2014

Wiranto-Jokowi dalam Pilpres 2014; Derby Putra Solo.
Wiranto-Jokowi dalam Pilpres 2014; Derby Putra Solo.

Pilpres 2014 memang masih lama. Namun, utak-atik proyeksi seperti sangat didoyani publik. Selain menakar elektabilitas mutakhir, survei diyakini sebagai promosi tak kentara yang biasanya berbanding lurus dengan isu bangunan media.

Semakin mendekati perhelatan besar Pilpres 2014, tampaknya dikotomi kriteria Capres, seperti tua-muda, militer-sipil, Jawa-Bukan Jawa mulai ditinggalkan. Kini kompetisi citra ada pada kompetensi Capres dalam memegang amanah kekuasaan. Bagaimana ia memahami persoalan, bagaimana ia bersikap, dan bagaimana indikator keberhasilannya.

Jokowi, pertama-tama. Superstar baru dalam dunia kepejabatan publik. Ia hadir bak meteor, dan merobek hati siapa pun yang menginginkan pedagang kaki lima dan masyarakat kecil diperlakukan manusiawi. Bayang-bayang ideologis bentukan PDIP tentang Indonesia bermartabat, sesuai pesan Bung Karno, tampak terinternalisasi, bahkan selalu menghantui setiap pejabat yang dimenangkan partai berlogo banteng bermoncong putih itu.

Apalagi Jokowi hadir di belantara Jakarta, yang hanya percaya uang dan kekuasaan. Jokowi berkenalan dengan lingkungan yang hampir tak layak huni, lantaran ketidakpedulian warganya. Mantan Walikota Solo itu bersalaman dengan kekumuhan Jakarta, berkat kerakusan segelintir orang yang hanya mengejar keuntungan individu.

Bukan main efek kehadiran Jokowi ini. Pasar Tanah Abang yang sekian lama ‘tak terkendali’ bisa ditangani lebih baik. Kini, siapa pun yang berhasrat belanja di sana, tak perlu lagi khawatir terjebak macet. Lusinan tempat tinggal baru diberikan kepada yang membutuhkan. Kartu sehat disebar, menjamin kalangan tak mampu untuk berobat. Dan masih banyak lagi.

Kalau sudah seperti itu, siapa yang tak mengharu-biru merespons sepak terjang Jokowi. Bahkan kalau pun ada yang menyatakan ketidaksukaannya di depan publik, rakyat tak segan membelanya, mungkin dengan mati-matian. Jokowi menyihir warga ibu kota dan Indonesia tentang pejabat yang tak melulu suka berpraktik dengan balutan formalitas. Ia melibas gaya klasik itu dengan ‘blusukan’.

Pencapresan Jokowi

Wajar bila kemudian ada sekelompok orang yang bermanuver, menggiring opini—juga Jokowi—untuk turut dalam kompetisi Pilpres 2014. Kalkulasi mereka sederhana. Kini Jokowi sungguh sangat terkenal. Tak hanya dicintai rakyat, tapi juga media. Bila keterkenalan ini diolah sedikit lagi, mereka optimis, Jokowi bisa menjadi Presiden Republik Indonesia, setelah SBY.

Beberapa survei bahkan terang-terang membuat indikator khusus tentang rivalitas ini. Lembaga-lembaga survei semakin yakin, bahwa Jokowi dan Wiranto akan benar bertanding, nanti.

Secara eksplisit, Jokowi tidak pernah menjawab isu itu. Ia terus fokus pada pembenahan Jakarta. Sekali dua kali ia mengesankan berhasrat untuk bersaing pada Pilpres 2014, tapi tetap saja tidak kentara. Ia biasa saja menanggapi usulan pencapresan dirinya.

Pada sisi lain, momentum desakan pencapresan Jokowi muncul setelah deklarasi capres-cawapres dilakukan Partai Hanura, yang mengusung Wiranto-Hary Tanoe. Sebagian beranggapan, komposisinya mirip: Jawa-etnis keturunan, Islam-Kristen, mayoritas-minoritas. Entah apa alasan jelasnya, deklarasi tersebut seperti berkiblat pada kesuksesan Jokowi-Ahok pada Pilgub Jakarta kemarin.

Dengan asumsi, Jokowi benar-benar masuk ke bursa Capres, berarti akan terjadi derby putra Solo pada Pilpres 2014. Derby adalah pertandingan tim sepakbola sekota yang sering kali menarik perhatian banyak pihak, karena menyoal gengsi. Tentang kualitas dan tentang pendukung setia yang sama-sama loyal.

Lantas apa jadinya bila dua putra Solo itu bertanding? Semoga tetap yang terbaik bagi negerilah, jawabannya.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.

1 Comment

Comments are closed.