Kepemimpinan Krisis; Kriteria Capres 2014

Kepemimpinan Krisis/publicleadership.org
Ilustrasi Kepemimpinan Krisis. (Foto: publicleadership.org)

Secara beruntun, republik ini terus disinggahi musibah-musibah berskala besar. Saking seringnya, orang semakin sulit membedakan, mana musibah yang sesungguhnya, dan mana musibah abal-abal (baca: terkesan dimusibahkan).

Meski demikian, sebagian kita tentu berpikir keras, lantaran negeri ini memang tengah dilanda berbagai macam krisis.

Dari berbagai sisi, musibah-musibah tersebut menemukan bingkai analisis baru yang sama sekali berbeda. Tragedi yang biasanya terjadi murni hanya karena kecelakaan, atau hanya melulu dilatarbelakangi oleh politik, sekarang melebur menjadi satu. Pilihan yang sulit diramalkan di satu sisi dan hal yang sudah direncanakan di sisi lain. Kehendak alam yang sulit dikontrol di satu sisi dan tuntutan rasional tentang pertanggungjawaban di sisi yang lain.

Rakyat kini selalu menunggu kebijakan pemerintah untuk memusnahkan kekhawatiran mereka. Hari-hari terasa dramatis. Meski kebijakan yang dianggap strategis telah dimunculkan pemerintah, tetapi belum lagi masyarakat mampu memahaminya, muncul kebijakan susulan yang menurut pemerintah itu lebih tepat daripada kebijakan sebelumnya.

Tampaknya, kepastian menjadi barang yang langka di tengah masyarakat saat ini.

Susahnya, pemerintah lebih memilih untuk memunculkan perspektif normatif ketimbang menelurkan kebijakan taktis-aplikatif yang sedianya sangat diinginkan masyarakat secepatnya. Apalagi, hal ini tidak ditunjang dengan sosialisasi kebijakan yang memadai pula. Hasilnya, rakyat hanya bisa harap-harap cemas pada nasibnya masing-masing tanpa tahu harus berbuat apa.

Kalkulasi Krisis

Krisis ditandai dengan ketidakpastian yang akut, sementara masyarakat tidak percaya kepada pemilik otoritas. Informasi tentang berbagai ketimpangan mengisi ruang persepsi publik, yang tentunya akan berimbas pada keresahan masyarakat dan ketidakberanian mereka dalam mengambil sikap.

Persoalan serius ini memaksa publik untuk beraktivitas tanpa otoritas kontrol yang memadai. Masing-masing memiliki pilihan yang bisa jadi tidak mendukung prinsip ‘kestabilan’ yang diharapkan. Meski banyak sarana informasi, komunikasi menjadi tidak lancar karena asas ketidakpercayaan. Kesinergian peran sebagai syarat mutlak seimbangnya tatanan sosial pun akan sulit terwujud dan masyarakat berjalan dengan dibayangi kondisi buas yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya.

Hukum yang ada kemudian adalah hukum rimba. Sebab, masing-masing orang menginginkan keadaan aman dengan caranya sendiri-sendiri. Pihak yang kuat akan menisbahkan diri sebagai penentu kepastian, hanya karena ia mampu berspekulasi tentang penanganan krisis dibanding pihak mana pun. Aturan main yang digunakan pun adalah kepentingan pihak-pihak kuat tersebut. Sedangkan pihak yang lemah akan selalu digiring rasa takut mereka dan kemudian, tidak bisa mengambil sikap secepatnya.

Kepemimpinan Krisis

Pemimpin Indonesia kini barangkali membutuhkan data akurat tentang kondisi rakyat yang sesungguhnya. Karena pada kenyataannya, publik resah. Meski demikian, pemimpin juga harus sarat dengan tawaran solusi penanganan masalah yang efektif. Jadi bukan hanya bermanuver politik; membangkitkan opini tentang kenyataan mengerikan. Pemimpin harus punya penyelesaian dan mendistribusikan kebijakan yang menenangkan publik.

Pemimpin harus mampu mendeskripsikan secara teperinci tentang kepastian langkah. Pemimpin harus mampu memberikan gambaran detail tentang rasionalisasi kondisi. Semua informasi disusun dalam struktur bahasa yang bisa dipahami publik dan melahirkan kesimpulan pemakluman kondisi dengan alasan yang cukup. Lebih lanjut, koridor atau aturan main dalam menyelesaikan persoalan juga harus ditransformasikan dalam bahasa yang tidak berbelit-belit dan tuntas.

Pemimpin harus sadar tengah berada dalam situasi krisis, dan bekerja keras untuk menghalau krisis. Bila benar adanya, pemimpin itu akan sangat dicintai rakyat, seberapa kuat krisis terjadi di republik ini.

 

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.