Menakar Visi Pendidikan Capres 2014

Visi Pendidikan/koran-jakarta.com
Visi Pendidikan/koran-jakarta.com

Pendidikan, tentu saja, bagian penting sebuah bangsa. Bermartabat pendidikan suatu bangsa, berdaulat pula eksistensi mereka. Bagaimana dengan Capres 2014?

Banyak sungsang menyandera pendidikan negeri ini. Anggaran sudah dinaikkan, kualitas lulusan belum juga dianggap memadai. Hasilnya, serapan tenaga kerja masih saja mengecewakan. Fakultas keguruan kebanjiran mahasiswa, pendidikan di daerah terpencil tetap tak terjamah. Banyak pekerjaan rumah menanti Capres 2014.

Tapi sudahlah. Mari segera membangun optimisme dan berbuat. Pertama kali yang perlu dipahami dalam merumuskan masalah adalah dengan meyakininya sebagai upaya positif, perbaikan kondisi. Pendewasaan pikir bangsa akan terjadi bila kenyataan dapat diterima sebagaimana adanya, terlebih dahulu.

Pun ketika kebutuhan krusial akan pembentukan ‘paradigma berbangsa’ adalah kunci mencari solusi persoalan pendidikan Indonesia.

Kompetensi Komunal

Semua anak bangsa punya kans memperbaiki pendidikan. Konsolidasi gerakan mulai dari analisis, komparasi, penyesuaian, kolaborasi, hingga akhirnya bermuara pada tawaran solusi benar-benar teragenda atas dasar keholistikan konsep dan kemultiperanan para stake holder.

Kegerahan akan lusuhnya dunia pendidikan seharusnya mampu menggejala tak hanya didasarkan pada kewenangan pihak-pihak tertentu, namun bisa dilogikakan sebagai kompetensi komunal, yakni tentang tingginya kepedulian antarsesama. Komitmen yang dilandaskan pada kekuatan pikir optimal, moral, dan tentunya tingkat kedewasaan suatu bangsa.

Taruhlah nasionalisme masih bisa dijadikan ukuran. Semacam khazanah wajib berbangsa. Bagaimana pun, sejarah telah membuktikan bahwa nasionalisme adalah sebentuk kekuatan dahsyat yang mampu meniriskan feodalisme, penindasan, imperialisme, disintegrasi, bahkan hingga pencerdasan bangsa.

Generasi Soekarno mampu menyadarkan rakyat pada waktu itu tentang betapa pentingnya kemerdekaan sebagai sebuah kebutuhan mendasar. Upaya sistematis dan brilian ketika pada akhirnya Indonesia mampu berdaulat dengan Proklamasi Kemerdekaannya.

Generasi Soeharto mewarnai nasionalisme dengan pembangunan dan swasembada beras. Pendidikan yang berhasil melahirkan tokoh-tokoh Reformasi.

Atau generasi hari ini yang tetap berusaha membangun optimisme, meski tak kunjung menghalau karut marut persoalan kebangsaan, juga pendidikan.

Semua itu tak lepas dari kompetensi komunal yang harus diyakini sebagai pijakan dasar berbangsa. Tak lebih tak kurang, bagaimana pun rupa Indonesia sekarang, tentu saja rupa kita semua jua.

Simpul Optimisme

Capres 2014 tidak perlu lagi berpayah-payah merumuskan teori atau formula baru mendesain pendidikan nasional yang berkualitas. Para pendahulu punya lusinan referensi bagus untuk dikomposisi, atau dipraktikkan mentah-mentah. Banyak pemikir pendidikan yang turut memberi sumbangsih gagasan, tapi sering dilupakan.

Bergerak dan memimpin generasi sekarang dengan optimisme yang sangat menjadi keharusan. Menyampaikan kebobrokan pendidikan di sana-sini, tanpa membingkainya dengan optimisme, hanya akan melahirkan sinisme publik tentang pendidikan yang hanya dianggap komoditas.

Sudah saatnya anak-anak bangsa yang sangat bersemangat bersekolah, meski dengan sarana seadanya itu, dipimpin seorang pengertian, yang mampu melihat potensi tak kentara generasi sekarang. Pendidikan akan berhasil dengan visi pemimpin yang mencontohkan optimisme.

 

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.