Penyegaran Wacana Nasionalisme Ekonomi dalam Bursa Politik 2014

Berdikari Bung Karno/simpelbisnis.wordpress.com
Berdikari Bung Karno. (Foto: simpelbisnis.wordpress.com)

BOLEH dibilang, gerakan menjaga republik dengan wadah nasionalisme ekonomi lambat-laun menyurut, jelas Pemilu 2014. Sebagian menganggapnya klasik, dan sebagian, merasa punya tafsir kekinian yang lebih meyakinkan.

Mari menilik ulang asal-muasal gerakan nasionalisme ekonomi. Sebut saja, itu karya salah satu Proklamator, Bung Hatta. Beliaulah pionir ekonomi kerakyatan. Tak lelah ia tegaskan pentingnya nasionalisme dalam wajah koperasi. The very nature of economics is rooted in nationalism. Seruan itu kini seperti mantra pemanggil makhluk lain, lantaran tak lagi punya ruh.

Bahkan koperasi kini jadi bahan tertawaan, karena tak menghasilkan gerakan tepercaya. Akumulasi kesejahteraan yang hanya mengumpul di beberapa gelintir orang. Orang lupa, koperasi bukan industrialisasi. Koperasi takluk oleh perilaku pimpinannya yang dinilai mendahulukan kepentingan mereka.

Restrukturisasi Sosiologis

Mau tak mau, doktrin rigid tentang nasionalisme ekonomi harus kembali didengungkan. Mari mengingat kembali buah pikir Sritua Arief, Guru Besar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Menurutnya, untuk melepaskan sisa-sisa feodalisme dan imperialisme pada tatanan masyarakat Indonesia perlu restrukturisasi sosiologis, dengan berupaya memotong garis kekuasaan yang selama ini dibentuk atas kolusi pemerintah dan para komprador.

Mengapa demikian? Karena saat ini, kondisi Indonesia tidak jauh berbeda dengan zaman feodal Belanda, bila ditilik dari struktur sosial masyarakatnya. Dahulu, produksi lahir dari kaum inlander (pribumi), sedangkan proses distribusi, konsumsi berikut keuntungannya diambil oleh para penjajah.

Rakyat hanya mampu menikmati hidup miskinnya dari abad ke abad. Hanya segelintir pribumi yang mampu hidup layak. Itu pun dengan status sedikit ‘menjilat’.

Saat ini, ketika proses produksi masih dikuasai pribumi, ternyata ketidakmampuan bangsa ini dalam mencerna makna ‘kebutuhan’ atau ‘keinginan’ justru menjerumuskan rakyat ke dalam kuatnya nafsu konsumeris. Akhirnya saving investmen gap pun terbuka lebar. Dan lihatlah, distribusi masih saja ada di tangan asing dan kroni asing.

Pragmatisme menyebar luas ke semua lini, lantaran nasionalisme ekonomi tidak lagi dapat dicerna generasi sekarang. Sekolah ya buat kaya. Belajar ya buat berkuasa. Bergaul ya buat dominan. Pada akumulasi perilaku, semua hal kemudian tampak menggelegak, tak terkendali. Generasi sekarang seperti lebur pada sistem yang tak lagi dapat dikritik, apalagi dilawan.

Autentisitas

Apa sih kebutuhan mendasar manusia, selain merasa cukup. Kenyang dengan makanan yang diinginkan. Jumlahnya banyak, tinggal dipilih. Dan dominasi atas makanan tak perlu terjadi. Sebab, sebanyak-banyaknya kita makan, toh tak akan menghabiskan stok makanan yang ada.

Pun dengan eksistensi individu. Pun dengan bernegara.

Keaslian karakter bangsa Indonesia layak dimunculkan kembali. Karakter bangsa yang saling tolong-menolong dan tak gampang tergerus individualitas. Karakter berbagi yang tak surutkan kerja keras. Karakter saling mengingatkan yang santun.

Nasionalisme ekonomi tentu saja berdasar pada keaslian perilaku ekonomi bangsa Indonesia. Perilaku yang tak nyaman dengan keberlebihan. Perilaku yang sarat keinginan mendistribusikan peran.

Komunalitas ala Indonesia-lah yang akan kembali memperkuat nasionalisme ekonomi kita. Setelahnya, tak peduli seberapa kuat krisis akan mendera kita. Dengan bersama dan berbagi, semua masalah akan berbuah hikmah besar tiada tara.

 

 

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.

1 Comment

Comments are closed.