Refleksi Sumpah Pemuda ke-85: Membangun (Kembali) Logika Komunal

Pemuda/inioke.com
Ilustrasi Pemuda. (Foto: inioke.com)

DALAM konstelasi republik yang tidak menguntungkan seperti sekarang, mau tidak mau, kita harus tegas mengatakan, sebagian pemuda kita justru menjadi bagian permasalahan.

Pemuda yang diharapkan mampu membongkar struktur berpikir individualistis justru menggawangi metode jalan pintas dengan menisbahkan diri menjadi kampiun pragmatisme. Sebuah cerminan polarisasi idealisme pemuda yang sangat jauh dari identitas moral.

Bukankah pemuda adalah kalangan khusus yang berposisi dan diposisikan sebagai komunitas pemikir? Golongan yang berkesempatan untuk selalu mengagendakan gagasan-gagasan komunal, bukan individual.

Apabila kemudian pemuda hanya melegitimasi diri sebagai kelompok elite dalam masyarakat yang sangat tidak mengindahkan berbagai persoalan yang ada, maka pemuda akan lahir menjadi kader bangsa yang otoritarian di masa mendatang.

Selanjutnya, pemuda akan memanfaatkan kedudukan dan statusnya untuk kemudian masuk ke dalam struktur masyarakat, baik dalam bidang apa pun, yang telanjur memosisikan pemuda sebagai komunitas terdidik. Dampak selanjutnya, negeri ini hanya akan berisi pemimpin-pemimpin egois yang tidak tahu menahu dan anti-kritisme.

Tinggal Sejarah

Dalam catatan sejarah, pemuda masih ‘dianggap’ sebagai pihak yang selalu menggagas dan menawarkan tatanan baru dalam masyarakat. Gerakan pemuda selalu berperan sentral dalam menggusur semua kezaliman penguasa. Kemasan gerakan pemuda mewujud dalam bingkai ilmiah dan penuh seruan moral.

Meski tidak dipungkiri juga dalam eskalasi yang ada gerakan pemuda sering kali dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu guna meloloskan kepentingan personal atau golongan. Namun, secara prinsip dapat ditegaskan bahwa pemuda adalah kalangan yang turut bertanggung jawab terhadap semua persoalan kebangsaan yang ada.

Pragmatisme hanyalah sebuah bagian gerakan yang bisa diamini ketika seluruh instrumen gerakan telah dirumuskan dalam koridor idealitas pikir. Ia hanyalah sebuah sarana penunjang, bukan tujuan. Perubahan tidak akan terjadi bila filosofi gerakan yang sarat pencarian jati diri—berupa eksistensi—tidak dirujuk sebagai bahan bakar. Formulasi pikir dengan dialektika intens adalah sebuah keharusan dalam mengagendakan seluruh gerakan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Logika Komunal

Logika komunal adalah pilihan penting. Sistem masyarakat tidak akan dapat terjaga dengan baik bila masih mementingkan diri sendiri. Egoisme akan menimbulkan ekses anarkis yang sangat bar-bar bila tidak berada dalam kerangka komunal. Masing-masing individu akan beranggapan bahwa komunitas lain adalah komunitas yang harus senantiasa dimanfaatkan semata tanpa diperhitungkan keberadaannya.

Dalam sejarah, komunalitas telah termanifestasi dalam gagasan nasionalisme. Sebuah langkah konkret untuk menyatukan nusantara dan mendeklarasikan kedaulatan bangsa, setelah terlalu lama ditindas kolonial.

Kebersamaan akhirnya menjadi kekuatan hakiki ketika tujuan hidup telah dipahami dan disepakati bersama. Tujuan hidup tentang eksistensi, yakni sebuah keharusan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia harus diakui oleh bangsa lain.

Gerakan pemuda tidak perlu latah dan reaksioner dalam menyikapi berbagai dominasi isu dan gerakan politik yang ada.

Kompetensi pemuda untuk selalu mengawal agenda perubahan harus selalu didengungkan dan diyakini sebagai komitmen abadi dalam melakukan gerakan.

Peran pemuda sebagai mediator, dinamisator, penengah, dan pembela rakyat bukanlah identitas yang memalukan. Sebab, sesuai khitahnya, pemuda diharuskan untuk selalu menuruti hati nurani.

 

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.