UKT Universitas Brawijaya, Potret Mahalnya Pendidikan Indonesia

KULIAH MAHAL - Front Mahasiswa Universitas Brawijaya berunjuk rasa di depan kantor Rektorat Universitas Negeri Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Kamis (08/02). (Foto: Tempo)
KULIAH MAHAL – Front Mahasiswa Universitas Brawijaya berunjuk rasa di depan kantor Rektorat Universitas Negeri Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Kamis (08/02). (Foto: Tempo)

Kuliah masih menjadi sesuatu yang mahal di negeri ini. Beberapa kasus memilukan menimpa banyak keluarga, karena berusaha bertahan, keluar dari impitan persoalan tersebut.

Selasa (20/8), puluhan orang tua mahasiswa baru Universitas Brawijaya Malang memadati Gedung Rektorat. Mereka keberatan membayar biaya kuliah.

Untuk mahasiswa baru program Studi Psikologi, dikenakan biaya sebesar Rp33 juta, dengan rincian uang gedung Rp 27 juta dan SPP Rp 4 juta yang harus dibayarkan sekaligus.

Jumlah SPP dan uang gedung serta biaya lainnya cukup besar. Bahkan ada yang mencapai Rp 43 juta.

“Kalau harus dibayarkan tunai sekaligus, kami sangat keberatan, karena terlalu tinggi. Paling tidak, selama satu semester lah,” ujar Arini, salah satu orang tua mahasiswa yang hadir, seperti diberitakan ROL .

Rektorat kampus Universitas Brawijaya sebelumnya juga mendapat protes dan keluhan dari orang tua mahasiswa yang diterima melalui jalur SNMPTN (undangan) dan SBMPTN (tes tulis) karena uang kuliah tunggal (UKT) yang telah ditetapkan harus dibayarkan dua semester sekaligus atau satu tahun pertama.

Jika mahasiswa baru tersebut dikenakan SPP sebesar Rp 7 juta per semester, maka biaya yang dibayarkan pada tahun pertama sebesar Rp 14 juta.

Lebih parah, sedikitnya lima mahasiswa Universitas Brawijaya Malang berencana menjual ginjalnya untuk membayar sumbangan penyelenggaraan pendidikan (SPP) yang dinilai terlalu mahal, tidak terjangkau, dan harus dibayar sekaligus untuk setahun.

Pemberlakuan UKT dinilai tidak meringankan beban orang tua. Apalagi, kebijakan rektorat terkait keringanan dan penundaan pembayaran SPP telah dihapus.

Diberitakan laman Tempo, Senin (2/9), Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang kembali berunjuk rasa menuntut pendidikan murah. Mahasiswa yang tergabung dalam Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya menilai UKT memberatkan mahasiswa.

Biaya pendidikan naik 60 persen. Dampaknya, ribuan mahasiswa tak bisa melanjutkan kuliah. Total sebanyak 1.400 mahasiswa mengajukan keringanan, hanya 300 yang dikabulkan. Menurut peserta aksi, sebanyak 84 mahasiswa bakal berhenti kuliah.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.