Gerakan HMI Anti Korupsi Tuntut KPK Bebas Intervensi Istana

PIL RAKSASA - Gerakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Antikorupsi berunjuk rasa di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (13/1). (Foto: Liputan6.com).
PIL RAKSASA – Gerakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Antikorupsi berunjuk rasa di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (13/1). (Foto: Liputan6.com).

Gerakan HMI Anti Korupsi menuntut KPK tetap menjaga independensi dan bebas intervensi Istana. KPK acap kali mengumbar informasi tentang para pelaku korupsi, akan tetapi ‘melempem’ saat ditanya mengenai keterlibatan Edhie Baskoro atau Ibas, putra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam kasus dugaan korupsi proyek Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) di Hambalang.

Hal ini disampaikan puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Antikorupsi saat melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (13/1), sebagaimana diberitakan Liputan6.com.

Koordinator aksi, La Ode Ahmadi, menuntut KPK harus independen dan tidak tebang pilih dalam memberantas korupsi.

“Mana keberanian KPK?” seru Ahmadi.

Peserta aksi membawa sejumlah atribut, seperti ikat kepala, bendera, dan spanduk. Tak hanya itu, mereka juga membawa replika pil raksasa dengan tempelan spanduk berlatar warna hijau pada sisinya bertuliskan ‘Pil Kuat…!!! Anti Intervensi Istana untuk KPK. Tangkap Edhie Baskoro Yudhoyono’.

“KPK begitu irit informasi ketika ditanya soal Ibas dalam kasus Hambalang, Wapres Boediono dalam kasus Century. Kenapa? Apakah karena kekuasaan?” ujar Ahmadi.

Menurut Ahmadi, pemegang kekuasaan tidak tersentuh KPK. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa hukum dan aparaturnya tunduk di hadapan kekuasaan. Ia mengibaratkan, idealisme KPK saat ini seperti buih laut yang membuncah, akan tetapi hilang seketika saat ada arus kekuasaan yang mengalir.

“Dalam kasus-kasus korupsi lain, KPK begitu bombastis dan penuh harapan. Tapi apa lacur, begitu ada kasus korupsi yang bersinggungan dengan kekuasaan, langsung loyo, kemayu,” imbuhnya.

Para mahasiswa ini meminta KPK memperlakukan semua orang yang diduga ‘nyolong’ uang rakyat dengan sama di mata hukum. Tak ada pilah-pisah dalam penanganannya.

“Kasus Century yang melibatkan Boediono sudah jelas. Kasus Hambalang yang melibatkan Ibas sudah jelas. Beginilah KPK yang sudah jadi boneka kekuasaan semata. KPK jadi sapi perah. Karena itu, kami menuntut KPK segera menangkap Ibas dan Boediono dan mendesak agar KPK tidak pandang bulu dalam pemberantasan korupsi,” kata Ahmadi.

Recommended For You

About the Author: Iswan Heriadjie