HT Dukung Banten Lama Jadi Pusat Kebudayaan

MASJID AGUNG - Banten Lama memiliki sejarah yang layak dipelajari generasi sekarang. (Foto: anydaytravel.net)
MASJID AGUNG – Banten Lama memiliki sejarah yang layak dipelajari generasi sekarang. (Foto: anydaytravel.net)

Pengunjung kompleks Kesultanan Banten mencapai ribuan, bahkan jutaan per tahun. Banten Lama sangat mendukung bila dijadikan pusat kebudayaan, sehingga pelestarian budaya bisa berjalan dan lebih baik lagi.

“Kalau saya boleh bicara jujur, kompleks ini masih terdapat banyak kekurangan, padahal tempat ini memiliki nilai kebudayaan dan sejarah. Untuk itu saya sangat menyambut baik rencana pihak keluarga kesultanan untuk membangun dua keraton di sini, dan saya siap untuk bekerja sama,” ujar Cawapres dari Partai Hanura Hary Tanoesoedibjo.

Diberitakan Okezone HT berkunjung ke kompleks Kesultanan Banten dan Pesantren Maulana Hasanuddin, Senin (20/1/2014). Kawasan tersebut lazim dikenal dengan sebutan Banten Lama.

Kehadiran HT disambut keluarga kesultanan TB Ismetullah Al Abbas selaku Ketua Umum Kenaziran Banten Lama dan KH TB A Sadzili Wasi’ sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Maulana Hasanuddin.

Selain bertemu dan bersilaturrahmi dengan keluarga kesultanan, HT sempat berkeliling kompleks kesultanan dan melakukan ziarah ke makam Kesultanan Banten.

Ismetullah Al Abbas menyampaikan kepada HT tentang rencana pembangunan dua keraton dan pemugaran kembali kompleks kesultanan.

“Langkah konkret untuk membantu kompleks Kesultanan Banten ini adalah mengerahkan teman-teman yang peduli dengan kebudayaan, mengorganisasi pendanaan, kemudian dipublikasikan dengan lebih baik,” ujar CEO MNC Group ini.

Sementara itu, Ismetullah Al Abbas menyatakan kedatangan HT merupakan suatu keistimewaan bagi keluarga.

“Pemahaman HT soal kebhinnekaan dan tujuannya membangun bangsa, kami doakan agar bisa terwujud dan kami menyambut baik dukungan beliau untuk jadikan kompleks Kesultanan Banten ini sebagai pusat kebudayaan, sesuai dengan cita-cita keluarga,” paparnya.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.