Kasus Erwiana, Kegagalan Rezim SBY Lindungi Buruh Migran

SOLIDARITAS - Ribuan buruh migran asal Indonesia menggelar aksi solidaritas untuk Erwiana di depan kantor Central Government Office (CGO) di Hongkong, Minggu (19/1). (Foto: Babungeblog.blogspot.com)
SOLIDARITAS – Ribuan buruh migran asal Indonesia menggelar aksi solidaritas untuk Erwiana di depan kantor Central Government Office (CGO) di Hongkong, Minggu (19/1). (Foto: Babungeblog.blogspot.com)

Kisah pilu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri atau yang sering disebut buruh migran tampaknya masih belum berakhir. Belum lama ini, kisah tragis tentang Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang disiksa majikannya kembali mengusik nurani bangsa Indonesia.

Erwiana Sulistiyaningsih, salah seorang TKW asal Ngawi, Jawa Timur, yang bekerja di Hongkong pulang dengan kondisi mengenaskan. Selain tangan dan kakinya mengalami luka lebam, perempuan berusia 21 tahun itu juga mengalami pembengkakan di otak akibat disiksa.

Kasus Erwiana merupakan salah satu contoh dari sekian banyak kasus yang menimpa buruh migran asal Indonesia. Sebagian besar dari kasus-kasus tersebut yang ditangani Badan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) tidak diselesaikan dengan baik.

Sebagai wujud solidaritas terhadap tragedi yang menimpa Erwiana, Jaringan Nasional untuk Keadilan Erwiana dan Seluruh Buruh Migran (Jarna Kebumi) menggelar aksi demonstrasi di depan Istana Negara, pada hari Kamis (30/1/2014) yang lalu.

Kasus Erwiana dan berbagai kasus yang menimpa kaum buruh menjadi bukti kegagalan rezim Presiden SBY dalam melindungi buruh migran. Pemerintah gagal dalam membuat sistem perlindungan bagi buruh migran.

“Kasus demi kasus itu mulai dari gaji yang tidak dibayar, kekerasan, pelecehan, PHK sepihak, dan masih banyak lagi,” ucap Zaenab, salah seorang koordinator aksi tersebut sebagaimana yang diberitakan bisnis.com.

Dalam kasus Erwiana, SBY dianggap lamban merespons keadaan. Presiden baru angkat bicara 12 hari setelah Erwiana kembali ke Tanah Air.

“Menurut kami kemarahan dan keprihatinan SBY adalah suatu kebohongan dan bentuk pencitraan karena dilakukan setelah buruh migran di Hongkong melakukan aksi protes dan pengecaman,” imbuh Zaenab.

Pemerintah Indonesia harus segera menciptakan sistem perlindungan serta kesejahteraan bagi seluruh buruh migran. Pasalnya, kenyataan di lapangan, Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) sebagai mitra BNP2TKI, dianggap hanya merampas hasil keringat buruh migran dan abai terhadap perlindungn serta keselamatan buruh.

Majikan Bebas

Tragedi yang dialami Erwiana belum berakhir di sini. Majikan sekaligus tersangka penganiayaan terhadap Erwiana sejak tahun 2013 lalu, Law Wan Tung, dibebaskan dengan uang jaminan sebesar 1 Juta Dollar Hongkong oleh Pengadilan Negeri Hongkong.

Dibebaskannya wanita yang tertangkap ketika akan melarikan diri pada Senin (20/1) lalu, dengan tujuan Bangkok Thailand, cukup mengagetkan beberapa warga Indonesia yang berada di Hongkong.

“Seharusnya Hongkong bisa memberikan hukuman seberat-beratnya,” ujar Ruriyanti, warga Kendari Permai, Sulawesi Tenggara. Menurutnya Ruriyanti, Pemerintah Hongkong jangan hanya berpihak kepada warga negaranya sendiri.

Senada dengan pernyataan tersebut, Ika Purwati, Warga Kota Malang, Jawa Timur, juga ikut geram. “Pemerintah Indonesia harus melakukan banding, agar tidak terkesan pembelaan yang hanya setengah-setengah,” ujar Ika di Hongkong, pada hari Rabu (22/1/2014) sebagaimana yang dilansir deliknews.com.

Dari hasil keterangan saksi-saksi di persidangan terungkap jika Law Wan Tung memang sering melakukan penyiksaan terhadap para pembantunya, selain Erwiana. Sebelumnya, tahun 2010 dan 2011 lalu juga Law Wan Tung melakukan penyiksaan terhadap pembantunya. **

Recommended For You

About the Author: Iswan Heriadjie