Kemah Sastra 2014, Merawat Sastra Berhati Nurani

FOTO BERSAMA - Peserta Kemah Sastra DKC Cianjur berfoto bersama. (Foto: Bumi Sawargi)
FOTO BERSAMA – Peserta Kemah Sastra DKC Cianjur berfoto bersama. (Foto: Bumi Sawargi)

Gejolak pelaku seni dalam karya patut dipahami. Mereka bagian dari pengembang budaya, penyebar nilai-nilai kebajikan. Pelurus moral yang kini mulai luntur lantaran pergaulan yang tidak berhati nurani.

Pesan tersebut tampak kuat dalam Kemah Sastra 2014 yang digelar Komite Sastra Dewan Kesenian Cianjur (DKC) pada Sabtu-Minggu, 22-23 Februari 2014, di halaman Villa Jessica, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur.

Acara bertema ‘Puncak Sastra, Alam, dan Karya’ ini diikuti siswa-siswi delegasi SMP/MTs dan SMA/SKM/MA se-Kabupaten Cianjur. Selain workshop menulis puisi dan cerpen, ada pula diskusi, simulasi sastra, dan apresiasi sastra dalam pertunjukan sastra.

“Ada beberapa upaya yang kita tekuni untuk mengekspresikan karya sastra, yaitu upaya menjadikan sastra sebagai media komunikasi antara pengarang dan peminat sastra,” ujar Ihsan Subhan, Ketua Komite Sastra DKC.

Selain itu, sambung Ihsan, adalah upaya menjadikan sastra sebagai alat penghibur dalam arti merupakan alat pemuas hati peminat sastra. Upaya menjadikan isi sastra ialah satu bentuk ekspresi yang mendalam dari pengarang terhadap unsur-unsur kehidupan.

“Semoga kami berhasil, dan ada tindak lanjutnya bagi pengarang atau penulis dan penikmat sastra,” tutur Ihsan.

Kemah Sastra 2014, selain mengembangkan seni sastra sebagai seni dalam kehidupan sehari-hari, juga bertujuan membangun kesadaran siswa, pentingnya mengkaji karya sastra lebih detail, memotivasi generasi muda untuk dapat mengekspresikan gagasannya dalam sebuah karya sastra, serta menambah pengetahuan tentang karya sastra yang dipentaskan.

Kegiatan ini menjadi stimulan pengembangan kegiatan sastra, khususnya generasi muda.

Kemah Sastra menghadirkan bintang tamu sastrawan terkemuka, seperti Faisyal Syahreza. Ia fenomenal dengan karyanya yang banyak dimuat media massa. Faisyal  terkenal sebagai ‘penyair kentang’, lantaran buku puisinya berjudul Hikayat Pemanen Kentang.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.