Seruan Anti-Golput SAPMA Hanura

PELANTIKAN - Pelantikan Pengurus Satuan Pelajar Mahasiswa (Sapma) Hanura, di pelataran Tugu Proklamasi, Jakarta, Senin, 29 September 2013. (Foto: Antara)
PELANTIKAN – Pelantikan Pengurus Satuan Pelajar Mahasiswa (Sapma) Hanura, di pelataran Tugu Proklamasi, Jakarta, Senin, 29 September 2013. (Foto: Antara)

Satuan Pelajar dan Mahasiswa (SAPMA) Hanura turut berpartisipasi dalam program pendidikan politik pada calon pemilih pemula, UI Political Fair 2014, Minggu (9/2). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Center of Election and Political Party FISIP UI dan dilangsungkan di kampus UI Depok tersebut berhasil menyita perhatian para mahasiswa.

Ketua Umum SAPMA, M Pradana Indrapura, merespons positif kegiatan tersebut. Pihaknya menilai bahwa pemilih pemula tidak mempunyai referensi terkait kondisi politik nasional. Dengan demikian akan memicu kemungkinan pemilih pemula tidak menggunakan hak pilihnya.

“Dengan diselenggarakannya kegiatan ini, pemilih pemula akan mendapatkan edukasi politik dan pendidikan demokrasi. Dan dengan kegiatan ini pula, pemilih pemula akan lebih mengenal Partai Hanura,” ujar M Pradana kepada sindonews.com, Minggu (9/2).

Pihaknya menegaskan, kegiatan ini harus ditiru para penyelenggara pemilu, khususnya KPU.

“Kegiatan seperti ini layaknya ditiru oleh KPU dan lembaga-lembaga lain yang terkait dengan pemilu. Bagi saya, kegiatan ini adalah usaha jemput bola agar para pemilih pemula menggunakan hak pilihnya,” katanya.

Pada kegiatan ini, Partai Hanura mendapat sambutan hangat dari para mahasiswa. Alhasil, stan Hanura yang digawangi SAPMA Hanura dipadati pengunjung.

Gerakan Muda Anti-Golput

Pemilihan Umum 2014 mendatang tidak terlepas dari ancaman golput. Tingginya angka golput pada Pemilu 2014 menjadi ancaman besar bagi KPU sekaligus partai peserta pemilu dalam menggaet partisipasi pemilih.

Jumlah angka golput terus meningkat. Tercatat pada Pileg 1999 angka golput 10,2 persen, Pileg 2004 sebesar 23,3 persen, dan pada 2009, ada 29 persen pemilih yang tidak menggunakan haknya.

M Pradana mendesak KPU untuk menekan angka golput pada Pemilu 2014. Pihaknya menuding KPU sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam mengatasi angka golput.

“Menurut saya, KPU harus berperan dan KPU harus berinisiatif dengan mengundang partai-partai politik ke sekolah atau kampus dengan menjelaskan soal pemilu,” kata M Pradana.

Ia menilai, angka partisipasi pemilih semakin menurun karena kurangnya pendidikan politik dan sosialisai dari KPU. Untuk mengantisipasi lonjakan angka golput, pihaknya menekan agar KPU memiliki long term training sebagai upaya menekan angka golput pada Pemilu 2014. **

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.