Ironi Tenaga Honorer di Indonesia

Demo guru honorer. (Foto: Agus Wahyudin)
Demo guru honorer. (Foto: Agus Wahyudin)

Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) tampaknya masih menjadi impian sebagian besar masyarakat Indonesia. Jaminan kesejahteraan dan berbagai tunjangan yang ada menjadi daya pikat utama dari profesi PNS.

Jumlah formasi PNS yang terbatas ternyata tidak sebanding dengan peminat kerja yang tiap tahunnya bertambah. Di sisi lain, masih banyak tenaga honorer yang sudah bekerja relatif lama, tapi tak kunjung diangkat menjadi PNS. Hal ini sering kali memunculkan konflik di masyarakat.

Di Kota Bandung misalnya, ribuan guru honorer yang tidak lulus tes CPNS kategori II mendatangi kantor Wali Kota Bandung. Massa yang tergabung dalam Asosiasi Guru Honorer Indonesia (AGHI) Bandung berunjuk rasa di halaman Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana, Sabtu (15/2).

Para demonstran meminta Pemerintah Kota Bandung, menjadikan guru honorer kategori II yang tidak lulus CPNS untuk menjadi Pejabat Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

“Kami meminta pemerintah daerah untuk menjadikan guru honorer kategori II yang tidak lulus CPNS diangkat menjadi PPPK dalam waktu cepat,” ucap Ketua Umum Aliansi Guru Honorer Indonesia (AGHI) Kota Bandung, Iman Supriatna.

Seperti di ketahui, sekitar 2.224 tenaga honorer kategori II yang ikut dalam seleksi CPNS di Kota Bandung dinyatakan tidak lulus. Dari hasil pengumuman Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan dan RB) yang dinyatakan lulus seleksi hanya 813 orang. Dari jumlah tersebut di perkirakan hanya 400 tenaga honorer kategori II yang lulus dari lingkungan Dinas Pendidikan Kota Bandung.

“2.224 itu kan dari semua SKPD, bukan dari dinas pendidikan saja. Untuk guru honorer sekitar 1.600 orang. Kalau untuk yang lulus dari lingkungan dinas pendidikan kami jujur belum tahu. Tapi kemungkinan ada 400 orang. Jadi, ada 1.200 guru honorer yang tidak lulus. Kami hanya minta dijadikan sebagai PPPK,” ujar Iman.

Kedatangan mereka ke kantor Wali Kota Bandung juga menuntut agar pemerintah daerah menunda pelaksanaan tes CPNS jalur umum. Karena, menurutnya, para guru honorer yang tidak lulus pada tes CPNS mayoritas usianya di atas 40 tahun. Sehingga tidak mungkin untuk bisa ikut dalam jalur umum tes CPNS. Hal ini tentu akan menimbulkan kecemburuan sosial.

“Kami harap pemerintah daerah dan pemerintah pusat lebih memperhatikan tenaga honorer kategori II yang tidak lulus seperti kami (usianya lebih dari 40—red). Apalagi masa kerja kami rata-rata sudah 10 tahun ke atas,” imbuh Iman.

Sekretaris Badan Kepegawaian Daerah Kota Bandung Atet Dedi Handiman menuturkan, berdasarkan Undang-Undang Aparatur Sipil Negara (ASN) No 5 Tahun 2014, ada peluang tenaga honorer kategori II untuk menjadi PPPK.

“Tapi ini belum ada PP terkait UU tersebut. Ini masih dibahas di Kemenpan dan RB,”ucap Atet.

Rawan Manipulasi

Di tempat yang lain, sejumlah tenaga honorer melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Situbondo. Mereka mendesak Kejari mengusut dugaan manipulasi data kategori dua (K-2).

Termasuk dugaan penyalahgunaan wewenang BKD Situbondo terkait penerimaan CPNS K-2. Sebab dari sekitar 1.030 honorer yang masuk database K-2, diklaim banyak yang sebenarnya tidak layak. Sebaliknya, honorer yang memenuhi ketentuan masuk database justru banyak terlempar. Hal itu dicurigai karena adanya manipulasi data K-2 dan penyalahgunaan wewenang oleh oknum di BKD Situbondo.

“Kami minta Pak Kajari dan stafnya mengusut masalah K-2 ini. Kasihan para honorer yang telah lama mengabdikan dirinya justru tersingkir. Ingat ini masalah nasib rakyat. Karena tidak mungkin profesi guru digantikan tukang ojek atau abang becak,” teriak seorang honorer yang ikut berdemo, Senin (20/1).

Perwakilan massa yang mengatasnamakan sebuah NGO itu diterima pihak Kejari Situbondo. Mereka menyerahkan pernyataan sikap dan data honorer yang dianggap banyak menyalahi ketentuan. Tak hanya masalah honorer, aksi yang diikuti puluhan massa itu juga menyoal sejumlah proyek rusak di Situbondo. Massa juga membawa keranda yang berisikan hantu pocong berlumuran darah, sebagai simbol rakyat yang menjadi korban. **

Recommended For You

About the Author: Iswan Heriadjie