Kebijakan Impor Garam Mendag dan Catatan Erik Satrya Wardhana

DISETUJUI - Erik Satrya Wardhana (paling kiri) bersama Gita Wirjawan, saat menyetujui RUU Perdagangan. (Foto: Antara)
DISETUJUI – Erik Satrya Wardhana (paling kiri) bersama Gita Wirjawan, saat menyetujui RUU Perdagangan. (Foto: Antara)

Jakarta, GNOL * Menteri Perdagangan membela diri soal hobi Indonesia mengimpor komoditas pangan. Muhammad Lutfi mengatakan, hal itu tidak bisa dihindari dan harus dilakukan. Alibinya demi stabilitas harga di pasaran dalam negeri.

Dalam pandangannya, jika pemerintah menghentikan impor atau tidak memberikan izin kepada importir, maka kebutuhan dalam negeri tidak tercukupi.

“Memang masih ada impor garam, tapi yang diimpor itu garam industri yang memiliki kandungan asinnya tinggi,” kata Lutfi di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (12/3).

Pada prinsipnya, sambung Lutfi, tugas dari yang utama itu stabilitas harga, untuk menjamin suplai dan demand, ketika harga terjatuh itu akan kita atur, dengan itu menjaga tetap agar tetap terjaga dan stabil.

Lutfi tidak menampik jika aktivitas impor selalu dipandang negatif. Tapi, kata dia, harus dilakukan sebagai upaya menstabilkan harga.

“Kalau misalnya kurang, impor itu bukan yang tabu, untuk mendapatkan harga yang baik, ketika harga jatuh agar rakyat tidak terbebani,” katanya.

Dari data sementara Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor garam Januari 2014 mencapai USD 13,5 juta atau sekitar Rp 1,4 triliun. Angka ini meningkat tajam hingga 400 persen jika dibandingkan Desember 2013 yang hanya USD 3 juta.

Sepanjang Januari, volume garam impor paling besar datang dari Australia dengan total impor mencapai USD 9,2 juta. Angka ini juga meningkat dari bulan sebelumnya yang hanya USD 2,9 juta. Garam impor juga datang dari India dengan total mencapai USD 4 juta. Padahal pada Desember 2013, Indonesia tidak mengimpor garam dari India.

Indonesia juga mengimpor garam dari Selandia Baru dengan total mencapai USD 147.400 atau naik dari bulan sebelumnya yang hanya USD 20.000. Indonesia juga mendatangkan garam dari Jerman dengan total impor USD 137.500 dan naik dibandingkan Desember 2013 yang hanya USD 77.900.

Catatan Erik Satrya Wardhana

Sekitar sebulan lamanya Menteri Perdagangan menjalankan tugasnya. Untuk mengukur kinerja Menteri Perdagangan pengganti Gita Wirjawan tersebut, catatan Wakil Ketua Komisi VI DPR, Erik Satrya Wardhana, dapat dijadikan ukuran.

“Sebagai mantan dubes, mestinya Muhammad Luthfi sudah cukup memahami problematika konstelasi perdagangan internasional dan posisi Indonesia dalam konstelasi tersebut,” kata Erik Rabu (12/2).

Untuk itu, kata Erik, tugas utama yang diberikan SBY kepada Luthfi untuk melanjutkan momentum ekspor seharusnya bisa dilaksanakan secara baik.

“Dia harus bisa menyelesaikan permasalahan yang menghambat kinerja ekspor, terutama untuk komoditas-komoditas unggulan seperti kelapa sawit, kakao, alas kaki, dan lain-lain,” ujarnya.

Luthfi diminta proaktif dan memimpin langsung upaya menyelesaikan berbagai permasalahan yang menghambat ekspor nasional. Erik meminta Luthfi harus memimpin langsung langkah-langkah strategis implementasi UU perdagangan yang baru saja disahkan DPR.

“Di antaranya dengan secepatnya menyelesaikan berbagai peraturan Pemerintah dan peraturan-peraturan lainnya yang diamanatkan oleh UU tersebut, supaya segera bisa dilaksanakan,” katanya. **

Sumber: Merdeka, Tribun News

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.