Masyarakat Riau Kecewa Pemerintah Lambat Tangani Kabut Asap

GEMPAR - Ratusan mahasiswa asal Riau yang tergabung dalam Gempar berunjuk rasa, Minggu (16/3) di Bundaran HI Jakarta. (Foto: GNOL)
GEMPAR – Ratusan mahasiswa asal Riau yang tergabung dalam GEMPAR berunjuk rasa, Minggu (16/3) di Bundaran HI Jakarta. (Foto: GNOL)

Derita yang dialami masyarakat Riau akibat asap pekat karena kebakaran hutan masih berbekas. Masyarakat kecewa karena sikap yang ditunjukkan Gubernur Riau, Anas Maamun, yang tidak memedulikan penderitaan rakyatnya.

Masyarakat mengecam sikap Anas Maamun yang malah sering pulang kampung ke Bagan Siapiapi Kabupaten Rohil, Riau. Dan Wakil Gubernur Riau yang malah sibuk ke Jakarta tanpa kejelasan. Hal ini disampaikan ratusan warga masyarakat dan mahasiswa saat berdemonstrasi di halaman Kantor Gubernur Riau, Jalan Jendral Sudirman, Pekanbaru, Jumat (14/3).

“Ini gimana Gubernur dan Wakil Gubernur kita? Di saat warga sudah resah karena asap, malah mereka tidak ada. Dasar pimpinan yang tidak peka terhadap penderitaan masyarakat,” teriak Andri, salah satu demonstran.

Demonstran juga mengelar aksi treatrikal yang menggambarkan betapa sengsaranya masyarakat karena asap. Ibu hamil dan bayi harus menderita sesak napas dan batuk-batuk karena kabut asap.

“Tuhan tidak pernah memberi asap. Tapi asap karena ulah perusahaan dan segelintir masyarakat yang melakukan pembakaran. Mereka harus di hukum berat,” ucap Joni Setiawan Mundung peserta aksi lainnya.

Pendemo juga mengecam lambannya penanganan asap oleh pemeritah daerah dan pemerintah pusat.

“Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga harus bertanggung jawab atas sikap lamban anak buahnya. Ini dosa pemerintah daerah dan pusat atas bencana asap Riau yang sudah berlangsung hampir dua bulan,” ucap Tedy, perserta demo lainnya.

Demo Aktivis Lingkungan

Di lokasi dan kesempatan yang lain, belasan aktivis lingkungan LSM Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Riau dan Jikalahari, menggelar aksi demonstrasi di depan kantor Konsulat Malaysia, di Pekanbaru, Selasa (11/2).

Kedua lembaga swadaya masyarakat tersebut menggelar aksi memprotes keberadaan perusahaan-perusahaan asal Malaysia yang mayoritas menguasai lahan perkebunan di Riau. Perusahaan-perusahaan asal negeri jiran tersebut dituding sebagai dalang pembakaran lahan sehingga menyebabkan kabut asap pekat di wilayah Riau.

“Kami minta keseriusan penarikan perusahaan asal Malaysia, yang terbukti melakukan pembakaran lahan di Riau,” ujar Koordinator Jikalahari Muslim. **

Sumber: Sindo News, Tribun News

Recommended For You

About the Author: Iswan Heriadjie