Minta Kaji Ulang Amandemen UUD 45, GPP Temui MPR

Ketua MPR dan Try Sutrisno. (Foto: Poskota News)
Ketua MPR dan Try Sutrisno. (Foto: Poskota News)

Ketua Dewan Pembina DPP Gerakan Pemantapan Pancasila (GPP) Try Sutrisno bertemu dengan Ketua MPR RI Sidarto Danusubroto, Wakil Ketua MPR RI M Lukman Hakim Saifuddin, dan Ketua Fraksi Hanura MPR RI Erik Satrya Wardhana di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (11/3).

Dalam pertemuan itu, Try didampingi pengurus DPP GPP, antara lain Sekjen Saiful Sulun, Wijoyo Suyono, Nyoman Gede Soewita, Monang Siburian, dan lainnya.

“Kondisi bangsa saat ini sungguh sulit, rumit, dan kompleks sebagai akibat dari hasil amandemen UUD 1945 yang menyesatkan dan menyimpang dari cita-cita kemerdekaan Indonesia,” ujar Try.

Amandemen UUD 1945 sebanyak empat kali pasca-reformasi, menurutnya, telah membuat bangsa ini keluar dari cita-cita kemerdekaan.

Try Sutrisno berharap dan meminta MPR untuk melakukan kajian konstitusi hasil amandemen itu secara komprehensif. Tujuannya, agar Indonesia bisa keluar dari berbagai penyimpangan yang terjadi saat ini.

Wapres era Orde Baru itu juga meminta dalam melakukan kajian, MPR merujuk kepada hasil kajian Komisi Konstitusi (KK) yang pernah diketuai Dr Sri Soemantri, SH berdasarkan TAP MPR RI No.4 tahun 2003 tentang susunan dan kedudukan KK.

“Hasil kajian KK itu ternyata selama amandemen tidak terpengaruh atau tidak ada tercantum sama sekali, sehingga buku UUD 1945 hasil amandemen 1,2,3 dan 4 serta kompilasinya ikut menyesatkan,” ujarnya.

Karena itu, DPP GPP, meminta MPR RI mengkaji ulang hasil amandemen selama reformasi tersebut secara komprehensif, dengan melakukan penyempurnaan dan bukannya pergantian pasal per pasal. Hal itu bisa dilakukan berdasarkan TAP MPR RI 1/2002.

“Saya juga berharap MPR RI menjadi lembaga tertinggi negara,” pungkas Try.

Sumber: Waspada

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.