Save Satinah, Aksi Solidaritas Saat Negara Tak Bergegas

SOLIDARITAS - Aksi sejumlah pembantu rumah tangga dilakukan di Titik Nol Kilometer Jogja. (Foto: Detik)
SOLIDARITAS – Aksi sejumlah pembantu rumah tangga dilakukan di Titik Nol Kilometer Jogja. (Foto: Detik)

Tragedi yang menimpa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri tampaknya tak kunjung usai. Awal bulan April, Satinah binti Jumadi Amad, TKI asal Dusun Mrunten, Desa Kalisidi, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, akan menghadapi eksekusi hukuman pancung di Arab Saudi. Eksekusi tidak akan dilakukan jika membayar ganti rugi sebesar 7 juta riyal atau Rp 21 miliar.

Pemerintah melalui perwakilan Konsulta Jenderal Republik Indonesia (KJRI) terus berupaya melakukan negoisasi dengan keluarga korban. Namun, hingga kini, keluarga korban belum juga menyetujui penawaran diyath atau uang pengampunan dari KJRI. Mereka tetap meminta diyath 7 juta riyal.

Awalnya, diyath yang diminta sebesar 15 juta riyal, kemudian turun menjadi 10 juta riyal pada 14 Juni 2011 setelah pemerintah bernegosiasi dengan gubernur di Arab dan keluarga. Diyath turun lagi menjadi 7 juta riyal setelah pertemuan negosiasi pada Desember 2011.

Hingga kini Kemenlu telah mengumpulkan dana sebesar 4 juta riyal. Uang sebesar itu diperoleh dari APBN sebesar 3 juta riyal, dari donatur sebesar 500 ribu riyal, serta dari pengumpulan dana dari asosiasi tenaga kerja sebesar 500 ribu riyal.

Kasus Satinah bermula ketika dia ditetapkan sebagai pembunuh majikan perempuannya, Nura Al Gharib di wilayah Gaseem, Arab Saudi dan mencuri uang sebesar 37.970 riyal pada Juni 2007.

Satinah mengakui perbuatannya dan dipenjara di Kota Gaseem sejak 2009 dan hingga kasasi pada 2010 Satinah diganjar hukuman mati. Seharusnya, Satinah menghadapi algojo pada Agustus 2011. Namun, tenggat waktu diperpanjang hingga 3 kali, yaitu Desember 2011, Desember 2012, dan Juni 2013.

Nasib Satinah saat ini ada di tangan ahli waris korban. Jika tawaran uang diyath 4 juta riyal diterima maka Satinah dipastikan akan segera bebas. Namun jika ditolak, kemungkinan besar nasib Satinah akan berakhir di tangan algojo 3 April 2014.

Penggalangan Dana

Tragedi yang menimpa Satinah mengundang keprihatinan berbagai pihak. Salah satunya dari musisi Melanie Subono.

Melanie berjuang untuk Satinah sejak 2007 bersama Migrant Care. Melanie bersuara lantang agar pemerintah membantu Satinah dalam proses pengadilan di Saudi.

“Uangnya kurang Rp 3 miliar,” ucap Melanie, Senin (24/3/2014).

Melanie lewat akun twitter @melaniesubono mengajak berbagai kalangan membantu Satinah. Sejumlah rekan artis dan musisi merespons positif ajakan Melanie. Apalagi ada lebih dari 100 TKI yang terancam dihukum mati.

Lewat akun twitter juga disampaikan donasi bagi Satinah bisa dikirimkan ke rekening BCA 2191221666 atas nama Melanie Subono.

“Pemerintah baru masuk belakangan, sejak 2011, setelah kita ramai. Kita terus bergerak dan ini mendapat respons positif dari teman-teman,” imbuh Melanie yang juga Duta Buruh Migran ini. Melanie juga akan mendampingi keluarga Satinah jelang hukuman mati.

Di Yogyakarta, sejumlah Pembantu Rumah Tangga (PRT) melakukan aksi penggalangan dana untuk ‘menebus’ Satinah. Aksi penggalangan dana puluhan PRT tersebut dilakukan di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Senin (24/3/2014). Mereka membawa kardus bertuliskan ‘Solidaritas untuk Satinah’ dan membentangkan spanduk bertuliskan #SaveSatinah, Rupiah Anda akan menyelamatkan Satinah’.

Humas aksi, Jumiyem, mengatakan, apabila berharap pada pemerintah, tentu akan sulit. Sehingga diperlukan aksi nyata.

“Biar hanya sedikit, tapi ini kepedulian kami. Karena negara lambat menanganinya,” kata Jumiyem di Titik Nol Kilometer Yogyakarta.

Para PRT menilai, seharusnya pemerintah mengetahui sejak awal, sehingga Satinah bisa diselamatkan. Mereka mendesak, Presiden SBY turun tangan membebaskan Satinah dari eksekusi hukuman pancung di Arab Saudi. **

Sumber: Liputan 6, Detik

Recommended For You

About the Author: Iswan Heriadjie