Partisipasi Rendah, Golput Kalahkan PDIP di Pileg 2014

golput
Golput bukan solusi, ayo memilih. (Ilustrasi: Pemilu)

Pemilu legislatif (pileg) 9 April lalu akhirnya dimenangkan oleh golongan putih (golput), sekitar 34 persen dari jumlah pemilih tidak menggunakan hak pilihnya. Bahkan besaran ini mengalahkan perolehan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

“Angka golput yang 34,02 persen ini tentu lebih tinggi dibandingkan perolehan suara PDIP (18,90 persen, Golkar (14,30 persen), dan Gerindra (11,80 persen),” kata Direktur Riset Maarif Institute for Culture and Humanity, Ahmad Fuad Fanani.

Ahmad mengatakan selain dimenangkan oleh golput, pileg 2014 ini merupakan pemilu yang paling banyak masalah selama reformasi digulirkan di Indonesia.

“Pileg 2014 merupakan pemilu paling bermasalah sepanjang bergulirnya reformasi di Indonesia. Hasilnya hanya memberi kemenangan bagi golput sebesar 34 persen,” kata Ahmad.

Dikatakannya, golput di Indonesia umumnya terbentuk tidak didasari atas ideologi, tapi lebih karena berbagai alasan teknis. “Untuk pileg 2014 ini saya yakin, golput naik karena pemilih bingung melihat sistem pemilu proporsional terbuka yang memungkinkan terjadinya rebutan dan kanibalisasi suara di internal partai,” ujarnya.

Masalah lainnya kata Fanani, soal pendidikan nasional yang rata-rata kelas 2 SMP tapi sudah harus dihadapkan dengan pemilu ultra-liberal.

“Ujung-ujungnya, pemilu bagi rakyat untuk mendapatkan uang karena begitu pemilu selesai, elit partai politik juga bagi-bagi kekuasaan untuk mereka nikmati 5 tahun ke depan,” kata dia.

Fanani mengungkap peroleh suara golput dalam 4 kali pemilu terakhir yakni 2014 sebesar 34 persen, pemilu 2009 (29,1), pemilu 2004 (23) dan pemilu 1999 (19,21).

Sumber: Indopos, Jpnn

Recommended For You

About the Author: Suut Amdani