Mengingat Kembali Cetak-Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN

Kampanye AEC bidang wisata di Thailand. (Foto: aectourismthai)
Kampanye AEC bidang wisata di Thailand. (Foto: aectourismthai)

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-13 berlangsung di Singapura pada tanggal 18-21 November 2007, ditandai dengan dimulainya Era Baru kerjasama ASEAN khususnya di bidang ekonomi. Delegasi Indonesia dalam KTT ASEAN ke-13 ini dipimpin langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dalam KTT tersebut, para Kepala Negara/Pemerintahan ASEAN menandatangani sebuah Deklarasi yang mensahkan ASEAN Economic Community Blueprint (Cetak-Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN) yang akan menjadi pedoman bagi semua Negara anggota ASEAN untuk mewujudkan Masyarakat Ekonomi ASEAN pada tahun 2015.

Cetak-Biru merupakan salah satu dari tiga pilar pencapaian ASEAN Vision 2020 (yang kemudian dipercepat menjadi 2015) khususnya untuk pilar  ASEAN Economic Community (AEC). Keinginan untuk mewujudkan Masyarakat Ekonomi ASEAN ini terutama didorong oleh tekad Negara-negara ASEAN untuk meningkatkan daya saing dan daya tarik ASEAN di tengah persaingan dari RRT dan India sebagai pemain ekonomi dunia, untuk meningkatkan posisi tawar dalam konteks perundingan ASEAN Plus (RRT, Korea, Jepang, Australia-New Zealand, India, Uni  Eropa), dan sebagai respon atas kecenderungan terhadap regionalisme.

Sebagian komitmen yang tertuang dalam  Cetak-Biru merupakan kesepakatan yang telah dicapai jauh sebelumnya. Untuk komitmen perdagangan barang, misalnya, melalui Common Effective Preferential Tariffs for ASEAN Free Trade Area (AFTA) yang disepakati pada tahun 1992 dan tercapai pada tahun 2002,  sementara komitmen di bidang jasa-jasa didasarkan pada ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) yang disepakati tahun 1995 dan untuk investasi didasarkan pada kesepakatan ASEAN Investment Area (AIA) tahun 1998. Sebagian lagi komitmen dalam Cetak-Biru merupakan kesepakatan untuk memperluas dan memperdalam kesepakatan-kesepakatan yang ada.

Implementasi Cetak-Biru ini terbagi  ke dalam empat phase yang dijabarkan dalam  strategic schedule, yakni 2008-2009; 2010-2011; 2012-2013; dan 2014-2015.

Cetak-Biru itu sendiri memuat empat kerangka perwujudan AEC. Keempat kerangka itu dengan elemennya masing-masing adalah

  1. Single Market and Production Base, dengan elemen free flow of goods (antara lain penghapusan hambatan tarif dan non-tarif; fasilitasi perdagangan; ASEAN Single Window, penentuan standard produk); free flow of services and skilled labour (antara lain regulasi  sektor yang jelas, Mutual Recognition Agreement di profesi) dan  free flow of investment  (antara lain peraturan yang jelas, kerjasama promosi dan fasilitasi) serta Priority Integration Sectors, dan  food, agriculture and forestry.
  2. Competitive Economic Region, dengan elemennya kerjasama di bidang competition policy (antara lain kerjasama antar otoritas persaingan usaha), consumer protection (antara lain mekanisme perlindungan konsumen, kerjasama antar otoritas), IPR (antara lain modernisasi proses, notifikasi dan pengakuan, jejaring otoritas penegak HKI), infrastructure development (antara lain transportasi, informasi, energi dan pembiayaan infrastruktur),  taxation (jejaring perjanjian bilateral untuk penghindaran double taxation),  e-commerce (kerangka kerja harmonisasi infrastruktur  hukum untuk e-commerce dan penyelesaian sengketa).
  3. Equitable Economic Development, dengan elemen SME development  (antara lain mendorong pengembangan UKM, daya saing UKM, dan meningkatkan daya tahan UKM), dan Initiative for ASEAN Integration (IAI).
  4. Full Integration  into Global Economy, dengan elemen coherent approach towards external economic relations, dan enhanced participation in global supply networks (antara lain meningkatkan  nilai-tambah regional, produktifitas dan riset, serta menganut production and marketing best practices).

Sumber: Departemen Perdagangan RI

Recommended For You

About the Author: Suut Amdani