Tuntutan Baru Buruh Indonesia di May Day 2014

Aksi demo buruh memeringati May Day di Jakarta. (Foto: BBC Indonesia)
Aksi demo buruh memeringati May Day di Jakarta. (Foto: BBC Indonesia)

Peringatan Hari Buruh (May Day) di Jakarta dimulai di Bundaran Hotel Indonesia sebelum mereka melakukan long march ke Istana Negara, Kamis (1/5). Sejumlah tuntutan baru kalangan buruh pun dilontarkan.

Presiden Konfederasi Serikat Buruh Indonesia, Said Iqbal, mengatakan “Di antaranya menaikkan upah minimum 2015 sebesar 30 persen dan kebutuhan hidup layak menjadi 84 item dengan tetap menjaga peningkatan daya beli buruh.”

“Kami juga meminta jaminan pensiun harus ditetapkan pada Juli 2015 karena UU Jaminan Pensiun sudah ada, selain itu hapus outsourcing (alih daya) khususnya di BUMN,” tambahnya.

Ia mengatakan masih banyak perusahaan yang tidak mematuhi peraturan menteri tenaga kerja Nomor 19/2013 yang hanya membolehkan lima jenis pekerjaan saja yang boleh dialihdayakan.

“Terutama di BUMN, tidak ada satu pun BUMN yang mengangkat karyawan outsourcing menjadi karyawan tetap atau kontrak langsung dengan BUMN tersebut,” tuturnya.

Tuntutan Baru

  • Kenaikan upah minimum 2015 sebesar 30%
  • Hapus penangguhan upah minimum
  • Jaminan Pensiun dijalankan per Juli 2015 sesuai UU
  • Gratiskan jaminan kesehatan untuk buruh dan rakyat kecil
  • Cabut UU Ormas ganti dengan UU Perkumpulan
  • Sahkan RUU Pekerja Rumah Tangga dan Revisi UU Pekerja Migran
  • Anggarkan 0,5% APBN untuk buruh
  • Wajib belajar 12 tahun

Partai Hanura pun menilai kemauan politik pemerintah untuk memperjuangkan nasib kaum buruh masih jauh dari harapan sehingga wajar apabila para pekerja menyuarakan tuntutan keadilan.

Ketua Umum DPP Partai Hanura Wiranto, saat melantik Pengurus Pusat Kesatuan Buruh Hanura (KBH) periode 2011-2016 pada Februari lalu menegaskan, political will pemerintah terhadap kaum buruh sangat lemah, dan sejak bertahun-tahun persoalan yang dituntut mengenai upah kerja.

“Semua sudah tahu bagaimana political will pemerintahan sekarang terhadap nasib kaum buruh,” katanya. Mantan Panglima TNI ini juga menyayangkan para pengambil keputusan yang tidak menggunakan hati nuraninya, saat membuat berbagai kebijakan untuk memperbaiki nasib buruh.

Menurut Wiranto, sesungguhnya kaum buruh itu mempunyai kekuatan cukup signifikan jika dilihat dari faktor jumlah mereka yang sangat besar.

Sumber: BBC Indonesia, SapulidiNews

Recommended For You

About the Author: Suut Amdani