Serangan Kampanye Hitam Sistematis dan Dikondisikan

Stop kampanye hitam digelar. (Foto: Sidomi)
Stop kampanye hitam digelar. (Foto: Sidomi)

Serangan yang ditujukan ke pasangan capres dan cawapres nomor 2 Joko Widodo-Jusuf Kalla seakan tak ada habisnya. Beberapa pihak pun menilai serangan-serangan itu dilakukan secara sistematis yang diatur oleh “tangan-tangan berkuasa” bukan sporadis, apalagi inisiatif pribadi.

“Ada ‘tangan-tangan berkuasa’ yang dengan perbagai cara berusaha menjatuhkan nama baik kandidat presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Pemilu Presiden 2014,” kata Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan Universitas Padjajaran, Muradi Rabu (18/6).

Menurutnya, ada beberapa usaha nyata untuk menjegal Jokowi menjadi presiden. Di antaranya dugaan pengerahan tentara Bintara Pembina Desa (Babinsa) untuk menghasut masyarakat Indonesia supaya memilih Prabowo Subianto pada 9 Juli mendatang.

Sedangkan usaha lainnya adalah untuk mendelegitimasi Jokowi adalah penyebaran isu sara melalui Tabloid Obor Rakyat yang disebar di pondok-pondok pesantren. “Ini by design dan dikondisikan. Pengkondisian yang sistematis,” kata Muradi kepada wartawan di Jakarta, Rabu (18/6).

Selain pengerahan Babinsa dan tabloid Obor Rakyat, Jokowi juga diserang dengan isu korupsi. Isu korupsi yang terus diarahkan ke Jokowi adalah kasus Transjakarta.

“Yang terbaru beredarnya fotokopi yang seolah transkrip percakapan antara Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan Jaksa Agung Basrief Arief yang isinya seolah-olah meminta agar Jokowi tidak dikaitkan dalam kasus Transjakarta,” ujarnya.

Megawati dan Basrief terang-terang membantah transkrip pembicaraan itu. “Beredarnya transkrip percakapan itu, tanpa rekaman, semakin menguatkan adanya upaya sistematis untuk mendelegitimasi Jokowi melalui kasus Transjakarta,” kata Muradi.

Tak berhenti sampai di situ. Bentuk serangan lain adalah dengan menghembuskan isu bahwa internal PDIP tidak solid mendukung Jokowi. Isu SARA juga sedang dilancarkan di Jakarta, selain fitnah yang beredar melalui Tabloid Obor Rakyat bahwa Jokowi beragama Kristen. Tujuan menyebar isu SARA di Jakarta agar pemilih Jakarta yang pada pemilu legislatif lalu dimenangkan PDI-P mengalihkan dukungan mereka ke Prabowo.

“Misalnya, saat ini sedang kencang diwacanakan, Ahok (Basuki Tjahja Purnama, wakil gubernur DKI Jakarta-red) yang beragama Kristen bakal berkuasa kalau Jokowi jadi presiden. Padahal Jakarta pernah punya gubernur nonmuslim, yaitu Henk Ngantung,” ujar Muradi.

Muradi mengatakan, upaya mendelegitimasi Jokowi dikendalikan dan diarahkan oleh pihak-pihak yang tidak tampak di permukaan. “Namun, secara kasat mata orang merasakan. Hanya kecurangan yang membuat Jokowi tidak menjadi presiden,” ujar Muradi.

Sumber: Jpnn, Berita Satu

Recommended For You

About the Author: Suut Amdani