Kekalahan Brasil di Tengah Penolakan Rakyatnya

Suporter menangis setelah Brasil kalah 1-7 atas Jerman. (Foto: Kompas)
Suporter menangis setelah Brasil kalah 1-7 atas Jerman. (Foto: Kompas)

Kenyataan getir harus dihadapi oleh warga Brasil atas kekalahan pertandingan semi final Brasil-Jerman dengan skor 1-7, di Stadion Belo Horizonte, Brasil, Rabu dini hari WIB.

Pelatih Brazil Luiz Felipe Scolari pun meminta maaf kepada warga negara Brazil, setelah timnya dihancurkan der Panzer di Piala Dunia.

“Kami meminta maaf,” kata Scolari. “Kepada rakyat (Brazil), mohon maafkan kami untuk kesalahan negatif ini,” lanjutnya.

Sebagian suporter terlihat sudah meninggalkan arena di akhir babak pertama. Ketika itu Brasil sudah tertinggal 0-5, mereka sudah merasa bahwa timnya tidak punya harapan lagi untuk membalikkan keadaan.

Beberapa orang yang masih bertahan di dalam stadion tidak bisa menyembunyikan raut getir dan bahkan menangis melihat gawang Julio Cesar dibobol bergantian oleh pemain-pemain Jerman. Sementara, di beberapa titik, suporter melakukan protes (lagi) dengan membakar bendera Brasil.

Kekecewaan tak terperi kemudian mewujud pada siulan-siulan dan suara-suara mencemooh yang ditujukan fans Brasil kepada beberapa pemain mereka. Reuters menyebut, mereka yang tidak menyaksikan langsung di Mineirao juga merasakan pahit yang sama. Mereka menangis, mereka tampak kecewa.

 

Situasi Negera Kacau

Sebagai seseorang yang bukan berkebangsaan Brasil, tentu mudah saja melabeli kegagalan tim nasional Brasil dengan berbagai kata, termasuk kata ‘memalukan’.

Tapi, jika memandangnya dari perspektif berbeda tentu akan lain. Anggap saja Brasil adalah Indonesia dan Piala Dunia diselenggarakan di tengah kondisi negara yang tengah berantakan. Jangan heran ketika tim nasional gagal total, kritik-kritik akan berdatangan.

Di balik euphoria Piala Dunia, mayoritas Masyarakat Brasil menolak. Piala Dunia di Brasil dianggap memunculkan kenaikan harga, pembiayaan untuk persiapan hingga penyelenggaraan acara tersebut, di ambilkan dari dana untuk sekolah, kesehatan, hingga layanan publik lainnya seperti dilansir New York Times pada (05/06/2014).

Hasil riset lembawa Pew, menyatakan 61% dari 1.003 orang dewasa di Brasil berpendapat Piala Dunia di Brasil ‘Tidak Berguna’. Piala Dunia 2014 sampai sekarang sudah menelan biaya Rp 168 triliun atau sekitar 14,5 miliar dollar AS.

Dari pos pembiayaan itu, ongkos pembangunan maupun pembenahan 12 stadion paling banyak menggelembung. Pada tahap awal pos itu berisi dana 1 miliar dollar AS. Tapi, lama-kelamaan, angkanya menjadi 3,5 miliar dollar AS.

Pada kenyataannya, dalam persiapan menjadi tuan rumah Piala Dunia, Brasil memang mesti membenahi masalah kesejahteraan masyarakat. Inflasi dan problem melimpahnya tenaga kerja yang tak tertampung di berbagai sektor bisnis adalah persoalan serius. Dua pertiga responden survei mengatakan dengan tegas bahwa situasi ekonomi di negara mereka memang buruk.

Hasil survei juga menunjukkan setahun sebelum Piala Dunia 2014, unjuk rasa seolah menjadi lazim di Brasil. Hampir separuh responden, sekitar 47 persen, mengatakan berbagai unjuk rasa merupakan kenyataan dari kondisi kesejahteraan sosial rakyat Brasil

Recommended For You

About the Author: Suut Amdani