Maret 2014, Penduduk Miskin 28,28 Juta

Panen padi. (Foto: Antara)
Panen padi. (Foto: Antara)

Jakarta, GNOL* Sebagai negara maritim dan agraris, Indonesia diyakini memiliki keunggulan di bidang pertanian. Bahkan Calon Presiden 2014, memiliki harapan besar bisa membangun pertanian perkasa yang kini dihuni penyumbang terbesar indeks garis kemiskinan Indonesia.

Fluktuasi jumlah penduduk miskin di Indonesia rupanya erat hubunganya dengan para petani. Jika saja, petani mengalami gagal pananen, dipastikan indeks penduduk miskin bertambah.

Badan Pusat Statistik mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2014 mencapai 28,28 juta orang atau meningkat dibandingkan periode sama tahun lalu yang tercatat sejumlah 28,17 juta orang.

“Peningkatan ini terjadi karena ada pergeseran jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian, karena pengaruh iklim yang menyebabkan panen bergeser,” kata Kepala BPS Suryamin di Jakarta, Selasa (2/7).

Suryamin menjelaskan meskipun terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin dibandingkan Maret 2013, namun jika dibandingkan pada periode September 2013 yang tercatat mencapai 28,6 juta orang, jumlah penduduk miskin relatif menurun.

Faktor yang mempengaruhi penurunan jumlah penduduk miskin sejak September 2013, antara lain inflasi yang cenderung rendah yaitu 2,31 persen, adanya kenaikan upah buruh tani sebesar 4,52 persen dan upah buruh bangunan sebesar 2,08 persen.

Selain itu, penduduk miskin berkurang dalam tujuh bulan, karena pada periode September 2013-Maret 2014, harga eceran beberapa komoditas bahan pokok mengalami penurunan, seperti daging ayam ras, gula pasir, cabai merah serta telur ayam ras.

“Faktor lain berkurangnya penduduk miskin, karena adanya perbaikan penghasilan petani yang ditunjukkan oleh kenaikan nilai tukar petani sebesar 0,61 persen, yaitu dari 101,24 pada September 2013 menjadi 101,86 pada Maret 2014,” kata Suryamin.

Ia menambahkan dari total penduduk miskin 28,28 juta orang tersebut, sebanyak 10,5 juta orang berada di daerah perkotaan dan sebesar 17,7 juta orang berada di daerah perdesaan.

“Jumlah penduduk miskin dari sejak 2010 cenderung landai, karena memang susah diturunkan, kecuali ada perlakuan khusus. Makanya, saat ini pemerintah tidak bisa melepas bansos, apalagi penduduk miskin banyak yang berpendidikan SD,” katanya.

Saat ini, jumlah penduduk miskin terbanyak berada di Pulau Jawa, yaitu mencapai 15,5 juta orang, diikuti Sumatera 6,07 juta orang, Sulawesi 2,1 juta orang, Bali dan Nusa Tenggara 2 juta orang, serta Maluku dan Papua 1,5 juta orang.

Sedangkan, selama periode Maret 2013-Maret 2014, garis kemiskinan yang dipergunakan sebagai suatu batas untuk mengelompokkan penduduk menjadi miskin atau tidak miskin, naik sebesar 11,45 persen atau dari Rp271.626 per kapita menjadi Rp302.732 per kapita.

“Peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan yang mencakup perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan, hingga mencapai 73,54 persen,” katanya.

Menurut Suryamin, komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai garis kemiskinan relatif sama di perkotaan maupun perdesaan yaitu beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, gula pasir, tempe dan tahu.

Menjadi Masalah Dunia

Kemiskinan juga menjadi masalah dan perhatian dunia. Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono bersama Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf dan Perdana Menteri Inggris David Cameron ditunjuk oleh PBB untuk memimpin Panel Tingkat Tinggi guna merumuskan arah, agenda, dan cetak biru pembangunan global pasca MDGs 2015.

Laporan akhir panel kepada PBB tersebut berjudul A New Global Partnership: Eradicate Poverty and Transform Economics Through Sustainable Development. Laporan ini sangat mewarnai dan menjadi masukan utama Sekjen PBB yang disampaikan kepada Sidang ke-68 Majelis Umum PBB, September lalu.

Agenda Pembangunan Pasca-2015 yang diusulkan panel tersebut merupakan agenda universal yang didasarkan pada lima pergeseran transformatif, yaitu: leave no one behind, put sustainable development at the core, transform economies for job and inclusive growth, build peace and effective, open and accountable institution fo all, dan forge a new global partnership.

Target utama dari Agenda Pasca 2015 adalah terhapusnya kemiskinan ekstrim di tahun 2030 dalam konteks pembangunan berkelanjutan.

Presiden SBY melihat peranan pembangunan sektor pertanian, baik terhadap tercapainya target pembangunan MDGs maupun Post-MDGs 2015 sangatlah besar. Utamanya bagi penghapusan kemiskinan ekstrem dan kelaparan di muka bumi. Produktivitas dan profitabilitas sektor ini berkorelasi langsung dan positif terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat perdesaan.

Sumber: Antara, PresidenRI

Recommended For You

About the Author: Suut Amdani