Ribuan Telur Busuk Rebus Beredar di Pasar Tradisional Kota Bogor

Ilustrasi. (Foto: ist)
Ilustrasi. (Foto: ist)

Ulah oknum pedagang nakal merugikan konsumen, demi meraup keuntungan besar, menjual ribuan telur busuk rebus di Pasar Kebon Kembang Kota Bogor.

Petugas Dinas Peternakan dan Pertanian bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bogor, menggerebek dan menyita 3.000 telur ayam rebus tak layak konsumsi, Rabu (16/7) dalam inspeksi mendadak dalam rangka jelang Lebaran 2014.

Wina, Dokter Dinas Peternakan dan Pertanian Kota Bogor memastikan temuan telur yang diperjualbelikan tersbut masuk dalam kategori tidak layak konsumsi. Tim juga telah melakukan uji laboratorium dan terbukti mengandung bakteri yang mengganggu pencernaan dalam jangka panjang.

Ciri dari telur busuk, lanjut Wina, bentuknya tidak beraturan karena cangkang telur lembek, mengeluarkan bau yang tidak sedap, kemudian kuning telur sedikit lebih besar dan berwarna kecoklatan melingkar seperti cincin pada bagian dalam putih telurnya.

“Bahkan biarpun sudah direbus dalam suhu tinggi, bakterinya tetap ada, karena kuat terhadap suhu panas,” terang Wina.

Diperkirakan 3.000 butir telur rebus busuk ini beredar setiap harinya di Kota Bogor sejak sekitar 6 bulan yang lalu. SM (36), perempuan penjual telur rebus busuk mengatakan, telur-telur rebus busuk tersebut dipasok oleh seseorang asal Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor.

Oleh SM, telur-telur busuk tersebut kemudian dijual dengan harga Rp3.000 per 15 butir. “Harganya 3000 rupiah satu plastik, isinya 10-15 butir. Saya cuma menjual, telurnya dikirim dari Cimande. Sehari saya diupah (Rp) 15 ribu,” kata SM.

Bambang Budianto, Kadisperidag Kota Bogor mengatakan, kasus ini merupakan penemuan pertama. Pihaknya berjanji akan mengembangkan temuan tersebut dan menggandeng Polres Bogor Kota untuk mengusut rantai bisnis curang dan menindak tegas terhadap penjual dan pemasok telur busuk tersebut.

“Kepada pedagang, sementara kita beri peringatan dan beri sanksi larangan berjualan. Sementara untuk pemasok, kita akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk menangkapnya,” kata Bambang.

Ia berharap, agar setiap pelanggaran yang merugikan konsumen bisa ditindak sesuai UU Nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.

Hingga hari ini, kedua dianas tersebut masih melakukan operasi di sejumlah pasar tradisional dan modern. Supermarket Ramayana di Plaza Jambu Dua juga menjadi target operasi.

Di supermarket tersebut, tim memeriksa parcel, daging dan makanan yang diperjual belikan, terkait masa kadaluarsa produk kemasan.

Waspadai Produk Kadaluarsa

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mencatat lonjakan permintaan saat puasa dan menjelang Lebaran, banyak dimanfaatkan oleh oknum pedagang untuk menjual produk kadaluarsa, baik di pasar tradisional maupun supermarket.

Sudaryatmo Pengurus YLKI mengatakan, pemerintah harus memperketat pengawasan serbuan makanan dan minuman (mamin) impor kadaluarsa selama puasa dan Lebaran.

“Kadang produk kadaluarsa tersebut diselipkan di antara produk lain atau dikemas dalam bentuk parcel,” ungkap Sudaryatmo di Jakarta, Kamis (17/7).

Namun, lanjutnya, tidak jarang oknum pedagang mengubah tanggal kadaluarsanya. Pasalnya, proses untuk mengubah tanggal kadaluarsa cukup mudah. Apalagi, banyak yang mudah dihapus.

“Hati-hati, bukan tidak mungkin produk yang dibeli justru mengandung bahan berbahaya bagi kesehatan atau mungkin tercampur bahan non halal,” ingatnya.

Sudaryatmo menambahkan, sejumlah produk impor mengandung bahan yang berbahaya. Fatalnya, tidak sedikit produk impor yang belum disertai label berbahasa Indonesia. Saat ini saja, produk-produk yang mengandung bahan berbahaya, seperti boraks, formalin, rhodamin, dan metanin yellow, marak beredar di pasaran.

Sumber: Detik, Bogorplus, Neraca

Recommended For You

About the Author: Suut Amdani