Babak Baru Bilateral Indonesia-Korea Utara, Kim Jong Un Undang Jokowi

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. (Foto: AFP)
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. (Foto: AFP)

Melaui Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Su Young, Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengundang presiden terpilih Joko Widodo melawat ke negaranya.

“Saya diundang ke sana (Korea Utara) setelah pelantikan,” ujar Jokowi seusai bertemu Su Young di Balaikota Jakarta, Selasa (13/8). “Mesti ya saya jawab, ‘ya dengan senang hati’,” sambung Jokowi.

Sambutan atas undangan tersebut, lanjut dia, tetap dalam koridor penghormatannya atas proses sengketa pemilihan presiden di MK (Mahkamah Konstitusi).

Kunjungan Ri Su Young ke Jokowi dalam rangka menyampaikan ucapan selamat dari Kim Jong Un atas terpilihnya Jokowi-Jusuf Kalla menjadi presiden dan wakil presiden Indonesia.

Jokowi melanjutkan, melalui Menlu Ri Su Young, Kim Jong Un berharap hubungan Indonesia-Korea Utara, terutama di bidang ekonomi dan kebudayaan, bisa diperkuat pada masa yang akan datang.

Pada Rabu siang, Su Young bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara. Dalam sambutannya, SBY berharap hubungan antara Indonesia dan Korut pada masa depan dapat dilanjutkan.

“Bapak Menteri bersama delegasi, pertama-tama saya mengucapkan selamat datang di Jakarta. Sebagaimana Bapak ketahui hubungan bilateral, persahabatan, kerjasama antara negara kita berjalan baik,” kata Presiden SBY dalam sambutannya.

Kerjasama Teknologi

Korea Utara menawarkan kerjasama pada bidang teknologi untuk menghemat energi, kepada Indonesia sebagai bagian dari peluang peningkatan kerjasama bilateral.

“Kami sepakat bulan depan kedua negara akan menyusun prioritas bidang-bidang kerjasama seperti bidang ketahanan pangan, teknologi, obat-obatan tradisional, olahraga, dan budaya,” kata Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa.

Marty mengatakan Korea Utara memiliki teknologi yang berpotensi menghemat energi, tetapi potensi itu sulit dikembangkan karena Korea Utara menghadapi berbagai kondisi dan situasi.

“Setelah ditetapkan prioritasnya, dalam waktu tiga bulan, kami akan saling mengirim delegasi untuk menjajaki potensi kerjasamanya,” katanya.

Kemudian dalam waktu enam bulan setelah penetapan prioritas kerjasama, lanjut Marty, kedua negara berharap mempunyai kerjasama yang nyata dan dapat ditetapkan dalam waktu dekat.

“Keinginan mereka adalah dapat bekerjasama dengan negara seperti Indonesia dalam mengembangkan potensi seperti itu,” ujarnya.

Marty mengatakan pertemuan dua menteri luar negeri itu tidak membahas rencana kunjungan Pemimpin Korea Utara Kim Jon-un ke Indonesia.

Sumber: Antara, Kompas, JPNN

Recommended For You

About the Author: Suut Amdani