Cendol de Keraton, Oleh-oleh Baru Khas Bogor

Oleh-oleh Cendol de Keraton dalam kemasan box. (Foto: GNOL)
Oleh-oleh Cendol de Keraton dalam kemasan box. (Foto: Gema Nurani)

Serasa tidak afdol jika datang ke kota tujuan wisata kuliner, seperti Bogor, Bandung, dan Bali, pulang tak membawa oleh-oleh. Selama ini biasanya oleh-oleh berupa produk kering dan berdaya tahan lama.

Cendol de Keraton, industri kuliner asal Kota Bogor berkembang sejak 2007 silam, kini melakukan inovasi menjadikan cendol sebagai buah tangan Khas Bogor.

“Banyaknya permintaan pelanggan untuk membawa oleh-oleh Cendol de Keraton melahirkan inovasi kemasan oleh-oleh yang bisa mempertahankan kesegaran produk. Cendol de Keraton, minuman fresh tanpa pengawet sekarang bisa dibawa terbang melintas kota dan pulau,” terang Mee Mee, owner Cendol de Keraton, Rabu (13/8).

Mee Mee bercerita, Cendol de Keraton untuk oleh-oleh sama dengan Cendol de Keraton yang dijual di 80 gerai Cendol de Keraton yang tersebar di Jabodetabek, Cikarang, Bandung, Semarang, Solo dan Bali.

“Cendol de Keraton untuk oleh-oleh dikemas dalam Box Styrofoam. Ini bisa dibeli di outlet tertentu yang biasanya banyak dikunjungi tamu dari luar kota. Untuk diminum di tempat dan dibawa pulang bisa dibeli di setiap outlet Cendol de Keraton. Harga 1 porsi Rp9.000 – 13,000 tergantung variannya,” jealasnya.

Cendol de Keraton lajut dia, terbuat dari bahan-bahan alami, hijau asli daun suji, santan dari kelapa pilihan dan gula merah dari gula kelapa asli tanpa pemanis buatan.

“Karena tanpa pengawet, disarankan segera diminum untuk kesegaran dan rasa yang maksimal. Untuk oleh-oleh, kami sudah menyiapkan kemasan untuk tahan hingga 24 jam,” imbuhnya.

Kini, Cendol de Keraton menyediakan 7 varian yaitu, Cendol Original, Cendol Nangka, Cendol Kurma, Cendol Jahe, Cendol Red Beans, Cendol Duren dan Cendol Float. “Semua dari bahan alami dan tanpa pengawet,” cetusnya.

Tembus Bali

Pemasaran Cendol de Keraton juga sukses menembus luar pulau asalnya, yakni Bali. “Alhamdulillah, tahun 2014 Rumah Produksi Cendol de Keraton di Bali akhirnya dibuka. Tidak hanya masyarakat Bali, para pejabat setempat bahkan turis asing menyambut sangat hangat hadirnya Cendol de Keraton di Bali. Animo turis asing terlihat dari kunjungan ulang para turis asing ke gerai-gerai Cendol de Keraton,” ungkapnya.

Ditanya potensi pengembangan pasar luar negeri, Mee Mee pun optimis. “Salah satu mimpi kami adalah membawa Cendol de Keraton keluar negeri. Suatu hari nanti minuman tradisional Indonesia ini akan bisa dijumpai di mall-mall negara tetangga kita,” ujarnya.

Dari beberapa event antar negara Cendol de Keraton ikut meramaikan, di antaranya Forum Asean Amerika Latin dan World Royal Heritage Festival. “Hampir semua tamu mancanegara yang minum Cendol de Keraton menyukai dan sangat menikmatinya. Ditambah dengan sambutan turis asing yang kami lihat di Bali, kami sangat meyakini potensi pasar Cendol de Keraton di luar negeri sangat menjanjikan,” tuturnya.

Hingga saat ini, Mee Mee mampu memproduksi kurang lebih 40-50 ribu porsi dalam sebulan. Produksi ini juga menjadi patokan permintaan pasar yang ada saat ini.

Cendol de Keraton menerapkan sistem kemitraan dalam pemasaran produk. Kemitraan Cendol de Keraton dibuat dengan sistem kerja yang sangat sederhana dan investasi yang sangat ringan.

“Kami mengharapkan Cendol de Keraton bisa menyebar dengan luas, dengan demikian minuman tradisional Indonesia ini bisa lebih menyebar mengimbangi minuman2 impor yang membanjiri Indonesia,” tutupnya.

Recommended For You

About the Author: Suut Amdani