Depresi Itu Mematikan Aktor Peraih Oscar Robin Williams

Komedian Robin William meninggal dunia. (Foto: Ist)
Komedian Robin William meninggal dunia. (Foto: Ist)

Siapa sangka, depresi akut sangat mematikan. Aktor AS Robin Williams ditemukan meninggal dunia, dalam usia 63 tahun, diduga bunuh diri, seperti disampaikan oleh polisi California. Robin ditemukan tewas pada Senin (11/8) siang waktu setempat, di kediamanya, Tiburon, California.

Aktor komedian ini terkenal melalui film Good Morning Vietnam, Dead Poets Society, Mrs Doubtfire dan memenangkan Oscar atas perannya dalam Good Will Hunting.

“Rob meninggal pagi ini. Dia telah berjuang melawan depresi berat akhir-akhir ini. Ini adalah kehilangan yang tragis dan mendadak,” terang juru bicara Williams, Mara Buxbaum, seperti dilansir dari Telegraph, Selasa (12/8).

Di masa lalu, dengan bercanda dia pernah menyatakan, dia bermasalah dengan alkohol dan narkoba. Williams baru-baru ini kembali ke pusat rehabilitasi untuk mengatasi masalah ketergantungan alkohol dan narkoba, seperti dilaporkan Los Angeles Times, Juli lalu.

Dalam pernyataannya, istri Willams, Susan Schneider, mengatakan dia ’sangat sedih’. “Atas nama keluarga Robin, kami meminta privasi pada saat ini. Harapan kami adalah Robin dikenal bukan karena kematiannya, tetapi banyak peristiwa yang membahagiakan dan kegembiraan yang dia berikan kepada jutaan orang.”

Williams memiliki tiga anak dari pernikahan sebelumnya. Lahir di Chicago, Illinois pada 1951, Williams bergabung dengan klub drama di SMA dan melanjutkan studi di Juilliard School di New York, akademi seni yang bergensi di AS. Di akademi itu dia didorong oleh gurunya untuk mendalami komedi.

Aktor peraih Oscar ini pertama kali dikenal dalam perannya sebagai zany portrayal seorang alien dalam serial TV Mork and Mindy, pada 1970an.

Presiden Barack Obama menyampaikan belasungkawanya:”Williams hadir dalam hidup kita sebagai alien- tetapi dia kemudian memberikan spirit kemanusiaan.

“Dia membuat kita tertawa. Dia membuat kita menangis. Dia menggunakan bakatnya secara bebas dan murah hati kepada mereka yang membutuhkan- mulai dari pasukan kita diluar negeri sampai orang-orang yang terpinggirkan di jalanan.”

Depresi Mematikan

Menurut Institut kesehatan mental nasional Amerika Serikat, depresi mayor merupakan salah satu penyebab umum dari gangguan mental di AS. Pada tahun 2012, diperkirakan 16 juta orang dewasa paling tidak mengalami satu episode depresi mayor atau gejala depresi dalam jangka waktu satu tahun.

Meski begitu, banyak orang yang tidak memahami dengan baik apa itu depresi. Bahkan seringkali orang salah kaprah menilai depresi sebagai sebuah perasaan sedih yang umum. Padahal menurut Stephen Ilardi, profesor psikologi klinis dari University of Kansas, depresi merupakan salah satu kata yang secara tragis disalahartikan dalam bahasa Inggris.

“Kata depresi banyak digunakan dalam percakapan sehari-hari. Sehingga, ketika mendengar kata depresi, banyak orang yang menganggapnya tidak serius. Faktanya, depresi jauh lebih buruk daripada sedih,” ungkapnya.

Depresi mayor dapat menyerang orang segala usia, namun menurut peneliti asal Washington University School of Medicine, usia rata-rata orang terkena depresi adalah usia 32,5 tahun.

Depresi lebih umum terjadi pada wanita dibandingkan pada pria. Pria yang depresi cenderung mencari pelarian ke alkohol dan zat lainnya dibandingkan wanita.

Pria depresi juga cenderung menutupi kesedihannya dengan melakukan hal lain secara ekstrem misalnya menonton televisi, berolahraga, bekerja berlebihan, bahkan melakukan perbuatan yang berisiko. Pria yang depresi lebih mungkin untuk bunuh diri dibandingkan dengan wanita.

Gejala depresi pada pria lebih sulit untuk dikenali dan seringkali penyakit ini tidak terdeteksi. Gejala depresi lebih serius dari merasa sedih. Tiga gejala utama depresi adalah kehilangan minat terhadap hal-hal yang dulu disukai, kehilangan energi, dan suasana perasaan murung. ini, jika dialami terus-menerus, individu menjadi tidak bersemangat dalam menjalani aktivitas dan hidupnya.

Belum lagi gejala lain seperti pesimistis, sulit konsentrasi, sulit tidur, bahkan kondisi berat yang dapat mendorong individu bunuh diri. Sekitar 80 persen penyebab bunuh diri adalah depresi.

Sumber: Kompas, BBC Indonesia, Jpnn

Recommended For You

About the Author: Suut Amdani