Dilematis, Pertamina Ditinggal Direktur Utama

Karen Agustiawan, Dirut PT Pertamina (persero). (Foto: Tempo)
Karen Agustiawan, Dirut PT Pertamina (persero). (Foto: Tempo)

Kabar pengunduran diri Direktur Utama (Dirut) PT. Pertamina (persero) – Karen Karen Agustiawan, dirasa janggal oleh berbagai pihak. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menyatakan Karen mundur dari jabatannya mulai 1 Oktober 2014.

Menurut keterangan Dahlan Iskan, Karen sudah berkali-kali minta mundur dari jabatannya. Namun, Dahlan selalu menolak dan mempertahankan Karen mengingat kinerjanya yang sangat cemerlang.

Menteri BUMN ini mengkui Karen telah membesarkan Pertamina selama 6,5 tahun dalam tugasnya. Karen berhasil membawa Pertamina masuk ke rangking 122 dalam Fortune 500 pada 2013 dan masuk rangking 123 pada 2014.

“Kali ini saya tidak bisa mampu lagi menahan. Bu Karen saya nawar jangan dekat-dekat ini. Akhirnya Bu Karen setuju dan 1 Oktober berhenti,” ungkap Dahlan di Jakarta, Senin (18/8).

Karen menjabat sebagai Dirut sejak 5 Februari 2009. Sebelumnya dia menjabat sebagai Direktur Hulu Pertamina per 5 Maret 2008. Pada 5 Maret 2013, pemerintah memperpanjang jabatan Karen sebagai Direktur Utama Pertamina untuk periode kedua 2013-2018.

Juru Bicara Pertamina Ali Mundakir mengatakan Karen mengundurkan diri dari jabatan direktur utama karena alasan pribadi. ”Alasannya pribadi, karena ingin lebih banyak mengurusi keluarga,” katanya.

Ali juga membantah, mundurnya Karen lantaran situasi politik, ataupun program kenaikan harga LPG 12 Kg tidak jalan dan pencabutan subsidi BBM yang menimbulkan kontroversi di masyarakat.

Kabarnya, setelah lepas dari Pertamina, Karen bakal meniti karir di bidang pendidikan sebagai pengajar di Universitas Harvard, Amerika Serikat.

Banyak Tekanan

Faisal Basri, ekonom Indonesia ini menilai mundurnya Karen untuk menjadi dosen di Harvard University terkesan mengada-ngada. Ia mensinyalir mundurnya seiring banyaknya interversi kepada Pertamina.

“Kayaknya terkesan aneh. Mengapa Karen mau menjadi dosen secara tiba-tiba? Ini saya rasa karena adanya tekanan atas berbagai kebijakan yang tidak disetujui pemerintah,” kata Faisal.

Ia menambahkan, keganjilan mundurnya Karena karena memang ada beberapa hal. Seperti kenaikan harga Gas Elpiji 12 kilogram yang tidak segera diputuskan pemerintah dan kebijakan lainnya yang selalu mengalami benturan kepentingan.

“Mungkin dia enggak tahan dengan kebijakan yang terus tidak dikabulkan, kalau sudah begini artinya dia sudah tidak dipercayai lagi. Mungkin ini alasan dia mundur, meski saya tidak mengenal Karen Agustiawan secara dekat,” terangnya.

Sumber: Antara, Tribun, Liputan6, OkeZone

Recommended For You

About the Author: Suut Amdani