Jejak Budaya Korea Festival Chuseok Ada Di Bogor

Boneka khas Korea di Festival Chuseok, Bogor Hotel Institut. (Foto: Suut Amdani)
Boneka khas Korea di Festival Chuseok, Bogor Hotel Institut. (Foto: Suut Amdani)

Jika di Indonesia ada tradisi Mudik Lebaran, di Korea juga ada. Eksodus besar-besaran para pekerja menuju kampung halaman masing-masing ini terjadi dalam perayaan Chuseok.

Chuseok menjadi hari libur resmi di Korea, dirayakan secara besar-besaran pada bulan ke-8, hari ke-15 kalender lunar. Perayaan ini berupa pesta makan untuk mengucapkan terima kasih atas keberhasilan panen, sehingga juga disebut juga sebagai Hari Panen, Festival Bulan Musim Panen.

Di zaman sekarang, perayaan Chuseok merupakan kesempatan orang Korea untuk pulang ke kampung halaman untuk mengunjungi altar leluhur dan orang tua.

“Chuseok di Korea mirip mudik Lebaran di Indonesia. Mereka pulang kampung dan membawa 3 jenis buah, Jeruk, Apel dan Pir dengan kualitas bagus. Makanya pertanian buah di sana maju. Chuseok biasanya ada di bulan September,” terang Sofar, Direktur Training and Research Center Bogor Hotel Istitut (BHI).

Sofar mengatakan, Festival Chuseok ini merupakan gelaran keempat kalinya oleh BHI di Hotel Salak Bogor. “Sudah terbukti, memiliki daya pikat luar biasa. Dalam dua hari tahun lalu bisa menyedot kunjungan enam ribu, kalangan anak muda,” terangnya.

Dengan begitu, lanjut dia, festival budaya ini bisa menjadi ikon BHI sebagai sekolah perhotelan pariwisata di Bogor. “Kami juga masih ada festival Jepang tahunan, yang lebih besar dan kunjunganya dua kali lipat,” tuturnya.

Dalam festival ini, pengunjung dikenakan biaya regristrasi masuk Rp20 ribu. Di dalamnya, berbagai kebudayaan Korea bisa dilihat. Misalnya, barang-barang kebudayaan Korea.

“Ada permainan tradisional, benda-benda lukisan, boneka, dan literatur. Benda-benda ini asli dari Korea, atas kerjasama dengan Kedutaan Korea di Indonesia,” terang Rizal, Staf Marketing BHI.

Pengunjung juga bisa menonton film Korea, juga mengikuti berbagai perlombaan dan menikmati performa khas Korea, seperti dance tradisional hingga K-Pop Dance dan K-Pop Sing. Stand pernak-pernik bertema Korea dan Food Korea juga ada.

“Lomba cover atau mirip dengan artis Korea paling banyak diminati. Juga Dance K-Pop sangat antusias,” tuturnya.

Di Festival ini anda juga bisa berfoto dengan kostum baju tradisional Korea dengan merogoh kocek mulai dari Rp50 ribu.

Kuliner Korea Diminati

Tidak hanya kebudayaan Negara Korea yang bisa dinikmati dalam Festival Chuseok ini. Beberapa kuliner khas asal Negara Korea yang dijajakan oleh mahasiswa BHI juga laris manis dibeli pengunjung.

Salah satunya, kimchi. Makanan fermentasi ini berasal dari sayuran, utamanya sawi, lobak dan ketimun. Kimchi juga adalah bahan dasar utama dalam berbagai resep masakan Korea. “Kimchi ini salahsatu makanan Korea paling dikenal di Indonesia. Umumnya, masakan Korea secara rasa masih bisa diterima lidah orang Indonesia,” kata Rizal.

Seperti dikutip Wikipedia, masakan Korea adalah makanan tradisional yang didasarkan pada teknik dan cara memasak orang Korea. Mulai dari kuliner istana sampai makanan khusus dari daerah-daerah. Ada juga perpaduan dengan masakan modern.

Masakan Korea berbahan dasar sebagian besar pada beras, mie, tahu, sayuran dan daging. Makanan tradisional Korea terkenal akan sejumlah besar makanan sampingan (lauk) yang disebut Banchan yang dimakan bersama dengan nasi putih dan sup (kaldu). Setiap makanan dilengkapi dengan Banchan yang cukup banyak.

Makanan Korea biasanya dibumbui dengan minyak wijen, doenjang, kecap, garam, bawang putih, jahe dan saus cabai (gochujang). Masyarakat Korea juga pengkonsumsi bawang putih terbesar di dunia di atas warga Cina, Thailand, Jepang, serta negara-negara Laut Tengah seperti Spanyol, Italia dan Yunani.

Makanan Korea berbeda secara musiman. Selama musim dingin, biasanya makanan tradisional yang dikonsumsi adalah kimchi dan berbagai sayuran yang diasinkan di dalam gentong besar yang disimpan di bawah tanah di luar rumah. Persiapan pembuatan masakan Korea biasanya sangat membutuhkan kerja sama.

Makanan tradisional dari istana, yang dahulu hanya dinikmati oleh keluarga kerajaan Dinasti Joseon, memerlukan waktu berjam-jam untuk pembuatannya. Makanan istana harus memiliki harmonisasi yang memperlihatkan kontras dari karakter panas dan dingin, pedas dan tawar, keras dan lembut, padat dan cair, serta keseimbangan warna.

Recommended For You

About the Author: Suut Amdani