Kisruh Solar Pertamina-PLN, Indonesia Bisa Gelap

Petugas PLN tengah memeriksa istalasi di gardu. (Foto: VivaNews)
Petugas PLN tengah memeriksa istalasi di gardu. (Foto: VivaNews)

Penghitungan harga solar antara PT Pertamina (Persero) dengan PT PLN (Persero) belum mencapai kesepakatan, lantaran adanya perbedaan antara kedua pihak terutama periode Januari 2013 sampai semester I-2014.

PLN memperkirakan jika pasokan BBM dari Pertamina dihentikan maka hampir sebagian besar wilayah Indonesia menjadi gelap.

“Perbedaan perhitungan harga solar antara Pertamina dan PLN belum tuntas. Sehingga akan dibahas kembali di Kementerian Keuangan,” kata Dirut PT PLN Nur Pamudji, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (11/8).

Menurut Nur Pamudji, meskipun belum sepakat untuk harga BBM solar periode semester I-2014, kedua pihak sudah menyepakati harga solar untuk semester II-2014.

Kisruh soal solar sempat mengemuka, karena Pertamina akan menghentikan pasokan solar ke pembangkit-pembangkit listrik PLN jika perusahaan listrk tersebut tidak membayar harga solar sesuai dengan kesepakatan berdasarkan kajian Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Sementara itu, Kepala Divisi Gas dan BBM PT PLN, Suryadi Mardjoeki, mengatakan Pertamina ingin perubahan harga dihitung sejak 2013.

“Pertamina menghendaki harga itu diberlakukan untuk pasokan solar sejak tahun 2013,” kata Suryadi.

Untuk itu, ujar Suryadi, untuk menyelesaikan permasalahan yang terkait dengan subsidi listrik tersebut akan melibatkan Direktorat Jenderal (Ditjen) Anggaran Kementerian keuangan.

“Tergantung Ditjen Anggaran. Jika disetujui harga solar diberlakukan sejak 2013 seperti yang dihendaki Pertamina, maka PLN pun akan mengikuti keputusan tersebut. Yang penting Ditjen yang punya uang untuk subsidi listrik, dan Pertamina bisa mensuplai,” tuturnya.

Ia mengungkapkan harga beli solar PLN ke Pertamina sebelumnya disesuaikan dengan lokasi, di antaranya 22 lokasi dengan harga Mean of Plats Singapore (MOPS) + 5 persen.

Pada dua lokasi harganya MOPS + 8 persen, dan satu lokasi MOPS + 8,5 persen dan semua lokasi MOPS + 9,5 persen.

“Jadi kalau dirata-rata maka harga yang ditetapkan Pertamina sebesar MOPS + 7,9 persen,” kata Suryadi.

Pertamina mengaku menanggung kerugian mencapai 45 juta dolar AS selama semester I 2014 karena menjual solar tidak pada harga keekonomian.

Menurut catatan, kebutuhan BBM PLN pada tahun 2014 mencapai 7,1 juta kiloliter. Pertamina menjadi pemasok mayoritas dan kurang dari 1 juta kilo liter BBM dari luar Pertamina.

Indonesia Bisa Gelap

Sementara, sejumlah pembangkit milik PLN yang ada di daerah masih sangat bergantung pada pasokan solar dari Pertamina. Direktur Operasi PLN wilayah Jawa, Bali, Sumatera, Ngurah Adnyana mengatakan pembangkit yang bergantung ke Pertamina itu banyak terdapat di Sumatera Utara dan Makassar.

Sementara daerah lainnya dapatkan menggunakan bahan bakar di luar produksi Pertamina karena berada di daerah strategis.

“Kami khawatir akan banyak pemadaman di Sumatera Utara dan Makasar kalau pasokan dihentikan,” kata Adnyana.

General Manager PT PLN Wilayah Sumsel, Jambi, dan Bengkulu (WS2JB), Paranai Suhaspan menuturkan di wilayah kerjanya terdapat belasan pembangkit yang saling berhubungan dengan daerah lain di Sumatera.

Khusus di Sumatera Selatan, hanya sebagian kecil saja sarana produksi listrik yang masih bergantung solar seperti genset. Sedangkan pembangkit utamanya hampir tidak menggunakan solar sama sekali. “Di WS2JB hanya di Mukomuko, Bengkulu Utara, yang masih bergantung solar,” kata Paranai di forum yang sama. Di daerah yang berbatasan langsung dengan Sumatera Barat itu, kata Paranai, terpaksa diberlakukan sistem pemadaman bergilir.

Sumber: Antara, Tempo

Recommended For You

About the Author: Suut Amdani