Pramuka Ketinggalan Zaman, Siswa Wajib Mengikuti

Kegiatan Pramuka di alam bebas. (Foto: Ist)
Kegiatan Pramuka di alam bebas. (Foto: Ist)

Pramuka (Praja Muda Karana) yang memiliki arti ‘orang muda yang suka berkarya’ tengah merayakan ulang tahunya ke-53. Selama itu pula, Gerakan Pramuka Indonesia melakukan pendidikan non formal kepanduan di tanah air.

Segudang anak muda berprestasi lahir dari roh Pramuka dengan mengemban nilai janji luhur Trisatya dan sepuluh moral Dasadarma. Kementerian Pendidikan mewajibkan Pramuka menjadi kegiatan siswa. Bahkan, Pramuka menjadi wajib diikuti oleh para nara pidana di berbagai lapas, seperti Nusakambangan.

Rupanya, tidak semua orang suka dengan kegiatan Pramuka yang dinilai sudah ketinggalan jama. Indentik dengan seragam coklat dan aneka aksesoris seperti tali, topi, badge, dan juga belati.

Topik Irawan, salah satu akun di forum Kompasiana mengisahkan bagaimana Pramuka menjadi sebuah keharusan bagi semua siswa tidak lagi relevan dalam perkembangan zaman.

“Dulu saat SD saya suka kegiatan Pramuka, namun sejak SMP hingga SMA sejujurnya saya mulai membenci kegiatan ini. Sebenarnya kegiatan Pramuka memang bermanfaat, mengenal alam bebas, bekemah dan belajar tentang arti setia kawan. Namun dalam perjalanannya Pramuka menjadi bagian dari pemaksaan, semua harus berlatih Pramuka, jika tidak maka dapat dipastikan akan ada hukuman,” tulis Topik dalam akun resminya.

Bahkan, dia merasakan Pramuka bentuk dari keotoriteran sistem. “Akhirnya banyak dari siswa malah setengah hati, banyak yang mangkir latihan Pramuka, termasuk saya, dan jika latihan Pramuka hari Sabtu, maka pilihannya adalah kabur dan tentu konsekwensinya hari Senin mendapat hukuman, namun lebih baik di hukum dari pada ikut Pramuka yang sebenarnya tak begitu saya minati,” ungkapnya.

“Hari ini Pramuka berulang tahun entah yang keberapa, seragam coklat coklat kadang berseliweran di jalan, semoga mereka memang menyukai Pramuka dengan apa adanya. Zaman telah berubah semoga Pramuka memiliki anggota yang benar benar cinta Pramuka, memahami dasa darma Pramuka, tapi plis jangan di paksa lagi siswa memakai seragam Pramuka, salam Pramuka!” imbuhnya.

Bangga Pramuka

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) secara langsung memimpin upacara peringatan hari Pramuka ke-53 Tahun 2014, di lapangan utama bumi perkemahan Pramuka Cibubur, Jakarta Timur, Kamis (14/8) sore.

Orang nomor satu di Indonesia ini bangga dengan Pramuka. “Pramuka akan ada di hati kami hingga akhir hayat,” ujar Presiden.

“Semoga hari ulang tahun ini menjadi momentum aktivitas gerakan Pramuka dalam membangun tunas-tunas muda yang memiliki watak, karakter dan jati diri bangsa yang kukuh,” ujarnya.

Ketinggalan Zaman

Tidak lagi menariknya kegiatan Pramuka sebenarnya sudah mengemuka sejak tahun 2010. Waktu itu, Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng menyinggung soal niatnya merevitalisasi pramuka. Salah satu konsepnya ialah kegiatan dan tampilan pramuka harus beradaptasi dengan perkembangan zaman sehingga tidak tampak ketinggalan zaman.

”Revitalisasi termasuk pada model kegiatan pramuka yang disesuaikan dengan semangat zaman dan minat anak muda zaman sekarang, termasuk juga tampilan seperti seragam sehingga pramuka tidak lagi dipandang sebagai zadul (zaman dulu), tetapi menjadi lebih seksi lagi bagi anak-anak muda,” kata Andi.

Revitalisasi kegiatan Pramuka terjadi hingga saat ini, hingga muncul model Pramuka Kreatif yang lekat dengan kegiatan kekinian. Seperti dikutip dalam laman pramuka.org terdapat sejumlah panduan.

“Kegiatan kreatif, rekreatif, serta kegiatan-kegiatan pramuka lainnya hendaknya selalu diberi muatan modern, bermanfaat, adanya ketaatan pada kode kerhormatan pramuka.”

Modern dapat diartikan hal-hal yang belum ada sebelumnya, sedang digemari oleh khalayak ramai saat ini, tengah menjadi tren, menurut pandangan peserta didik. Kegiatan juga harus bermanfaat, berguna dalam kehidupan.

Masih Relevan

Kegiatan Pramuka saat ini dinilai masih relevan dengan kondisi dinamika pelajar saat ini, oleh Kepala Sekolah SMAN 6 Kota Bogor, Maman Suherman yang juga Wakil Ketua Kwarcab Kota Bogor.

“Kegitan kepramukaan bukan hanya tali temali, tapi juga pembentukan karakter siswa. Kita tahu, dinamika pelajar saat ini juga rentan dengan pergaulan bebas, narkoba hingga tawuran,” terangnya.

lebih spesifik, Maman menjabarkan dalan nilai Dasa Darma Pramuka terkandung pembangunan nilai-nilai karakter positif, yakni, taqwa, cinta alam dan kasih sayang sesama manusia, patriotisme, hingga suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

“Pramuka dengan implementasi dasa darma ini menjadi solusi mengatasi dinamika perilaku meyimpang saat saat ini. Makannya, kami sangat setuju ketika ekstrakulikuler diwajibakan oleh Mendiknas pada kurikulum 2013,” ungkapnya.

Ia juga prihatin fenomena yang terjadi saat ini, yakani pelajar lupa waktu karena IT, lupa beribadah, terlena dengan pusat hiburan, pusat perbelanjaan. “Ini faktor pemicu munculnya tawuran, geng motor dan banyak lagi,” pungkasnya.

Recommended For You

About the Author: Suut Amdani