Wabah Ebola dari Daerah Terpencil Ancam Eropa dan Asia

Wabah Ebola serang Afrika Barat. (Foto: media.farsnews)
Wabah Ebola serang Afrika Barat. (Foto: media.farsnews)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan kepada seluruh Negara untuk mewaspadai penyebaran wabah Ebola. Menyebarnya Ebola di Afrika Barat ditetapkan sebagai ‘kejadian luar biasa’ dan sekarang merupakan risiko kesehatan internasional.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (8/8), wabah Ebola telah menewaskan hampir 1.000 orang di empat negara Afrika Barat; Guinea, Liberia, Nigeria, dan Sierra Leone.

”Respons internasional yang terkoordinasi dianggap penting untuk menghentikan dan memutarbalikkan penyebaran internasional Ebola,” kata WHO dalam sebuah pernyataan setelah pertemuan dua hari dengan komite darurat Ebola.

Deklarasi darurat internasional akan menaikkan tingkat kewaspadaan untuk penularan virus tersebut.

Keiji Fukuda, kepala WHO bagian keamanan kesehatan, menekankan bahwa dengan langkah-langkah yang tepat dan penanganan yang berhubungan dengan orang yang terinfeksi Ebola, penyebaran Ebola ini dapat dihentikan.

“Ini bukan penyakit misterius. Ini adalah penyakit menular yang dapat terjadi dan bukan virus yang menyebar melalui udara,” tambahnya.

WHO mengatakan wabah saat ini merupakan wabah yang paling parah dalam hampir 40 tahun terakhir sejak Ebola pertama kali diidentifikasi pada manusia.

Hal ini mungkin dikarenakan kelemahan di negara – negara yang saat ini terkena dampak, seperti sistem kesehatan yang rapuh dan kurangnya sumber daya manusia, juga keuangan dan sumber daya material.

Ia juga mengatakan, pengalaman dalam menangani wabah Ebola dan kesalahan persepsi dari penyakit tersebut, termasuk bagaimana penularannya, “terus menjadi tantangan utama dalam masyarakat”.

Meskipun sebagian besar kasus Ebola berada di daerah terpencil seperti perbatasan Guinea dengan Sierra Leone dan Liberia, peringatan atas penyebaran penyakit tersebut meningkat bulan lalu ketika seorang warga negara AS tewas di Nigeria setelah bepergian ke sana dengan pesawat dari Liberia.

Setelah percobaan obat yang diberikan kepada dua pekerja amal asal AS yang terinfeksi di Liberia, spesialis Ebola telah mendesak WHO untuk menawarkan obat tersebut ke Afrika. Badan PBB telah meminta ahli etika medis untuk melakukan hal ini minggu depan.

Mengancam Eropa dan Asia

Organisasi kemanusiaan Doctors Without Borders (MSF) mengatakan krisis wabah Ebola di Afrika Barat akan makin buruk jika tidak ada strategi menyeluruh di berbagai Negara.

Bart Janssens, direktur operasi MSF memperingatkan bahwa pemerintah dan negara-negara serta organisasi internasional tidak punya “cara pandang menyeluruh“ tentang bagaimana mengatasi wabah ini.

“Epidemi ini belum pernah terjadi sebelumnya, benar-benar di luar kendali dan situasi ini hanya akan memburuk, karena (virus) masih menyebar, terutama di beberapa titik di Liberia dan Sierra Leone,” kata dia.

“Jika situasi ini tidak membaik dengan cepat, ada resiko nyata negara-negara baru akan tertular,” kata dia kepada harian La Libre Belgique.

Pemerintah Hong Kong mengumumkan akan mengambil langkah berupa karantina untuk kasus-kasus yang dicurigai, meski seorang perempuan yang tiba dari Afrika dengan gejala yang mirip Ebola, setelah diuji laboratorium, hasilnya negatif.

Organisasi penerbangan sipil internasional (ICAO) telah melakukan pembicaraan dengan para pejabat kesehatan dunia terkait langkah-langkah yang bisa diambil untuk menghentikan penyebaran Ebola.

Di Inggris, di mana salah seorang telah diperiksa laboratorium dan dinyatakan negatif, Menteri Luar Negeri Philip Hammond mengatakan kasus ini merupakan “sebuah ancaman serius”.

Sebuah pertemuan darurat telah diputuskan bahwa pendekatan terbaik adalah menyediakan ”sumber daya tambahan untuk mengatasi penyakit di sumbernya” di Afrika Barat, kata dia.

Ebola bisa membunuh korban hanya dalam hitungan hari, ditandai demam tinggi dan nyeri otot, muntah, diare, dan dalam beberapa kasus terjadi kegagalan fungsi organ tubuh dan pendarahan tanpa henti.

Sumber: Antara, Deutsche Welle

Recommended For You

About the Author: Suut Amdani