Wilayah Pembatasan BBM Bersubsidi Segera Diperluas

SPBU di Tol mendapat pembatasan BBM bersubsidi. (Foto: Tempo)
SPBU di Tol mendapat pembatasan BBM bersubsidi. (Foto: Tempo)

Kebijakan pemerintah meniadakan penjualan bahan bakar jenis Premium di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di ruas jalan tol dinilai tidak efektif. Selama tiga hari ini, SPBU Toll sepi.

“SPBU tol menjerit. Semua lengang seperti lapangan bola,” ujar L. Hermawan, Wakil Ketua Bidang SPBU Himpunan Pengusaha Wiraswasta Nasional (Hiswana) Migas DKI Jakarta, Jumat (8/8).

Hermawan mengatakan kebijakan yang diberlakukan sejak tiga hari lalu ini belum tentu mendorong masyarakat untuk berpindah ke bahan bakar jenis Pertamax seperti yang diharapkan sebelumnya. Akibatnya, Pertamax tetap tak terjual karena konsumen lebih memilih mengisi Premium di dekat pintu masuk jalan tol.

“Kita kan tahu tabiat orang Indonesia, selama masih ada barang murah, bisa dipakai, dengan jenis yang mirip, kenapa harus beli yang mahal, meski kualitasnya lebih baik,” ujarnya.

Hermawan menyebut pengguna tol memilih alternatif untuk melakukan pengisian di SPBU yang paling dekat pintu tol. Salah satu efek sampingnya tempat peristirahatan di SPBU jalan tol ikut sepi, pengusaha turut merugi.

Meski begitu, dia belum dapat memprediksi jumlah kerugian yang terjadi di SPBU jalan tol. Rencananya, pihaknya akan melakukan evaluasi saat empat-lima hari kebijakan tersebut berjalan. “Tidak tahu angka pastinya. Yang jelas, hari kedua saja sudah kelihatan bahwa cara ini tidak efektif,” paparnya singkat.

Hermawan menegaskan bahwa pihaknya sangat mendukung kebijakan pemerintah untuk mengurangi subsidi BBM dan siap membantu jika dilakukan dengan cara yang tepat dan adil.

Menurut dia, cara yang lebih efektif untuk mengurangi subsidi BBM adalah memotong jatah BBM di SPBU secara rata di tiap wilayah dan mengawasi dengan ketat, terutama di daerah Jawa dan Kalimantan yang disinyalir sering terjadi penjualan BBM subsidi secara ilegal.

Pembatasan Meluas

Bukan ‘gertak sambal’ pemerintah bakal memperluas daerah pembatasan BBM bersubsidi. Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo mengatakan kebijakan tersebut, akan diperluas ke seluruh Jakarta dan kota kota besar lainnya. Hal ini, dalam rangka penghematan subsidi energi yang anggarannya menghabiskan Rp 1 triliun per hari.

“Kita akan lanjutkan seluruh Jakarta, dan kota kota besar. Harus dijalankan karena ini kewajiban kita bersama menghemat BBM subsidi,” ucap Susilo di Kementerian ESDM, kemarin.

Susilo belum mau menjelaskan secara detil kapan kebijakan ini akan dimulai. Dia juga belum menjelaskan jenis BBM subsidi apa yang akan dibatasi di seluruh Jakarta dan kota besar lainnya.

“Kapannya tanya rumput yang bergoyang. Nantilah pelan pelan. Subsidi kita sekarang besar, untuk satu liter premium kita subsidi Rp 7.000, untuk solar itu Rp 6.500 per liter,” katanya.

“Yang menimbun itu untungnya banyak. Makanya subsidi kita kurangi dengan pengendalian. Tidak akan ada masyarakat kecil yang kena. Motor beli premium silahkan saja. Pemerintah tidak ingin menyusahkan rakyatnya,” imbuhnya.

Sumber: Tempo, Merdeka

Recommended For You

About the Author: Suut Amdani