Gesitnya Perputaran Uang dari Bisnis Jamu Gendong

Tampak sejumlah pedagang jamu gendong. (Foto: Merdeka)
Tampak sejumlah pedagang jamu gendong. (Foto: Merdeka)

Jamu tradisional atau juga disebut jamu gendong rupanya masih menjadi pilihan masyarakat sebagai bisnis penopang ekonomi keluarga. Di wilayah Bogor, tak kurang dari 1.000 orang memutar uang dari bisnis jamu tradisional tahun ini.

”Jamu masih menjadi mata pencarian yang cukup menjanjikan. Waktu mudik Lebaran lalu, saya bertemu dengan tukang jamu. Dia bisa menyekolahkan tiga anaknya lulus Sarjana,” kata Aries Rahardjo, Event & Promotion PT Jamu Jago di Kota Bogor, kemarin.

Kebanyakan, pedangan jamu gendong berasal dari tiga kota di Jawa Tengah, yakni Sukoharjo, Nguter, dan Wonogiri. “Kebanyakan dari Jawa Tengah, turun temurun. Jual jamunya di perantauan, uangnya berputar lagi di daerah, untuk biaya pendidikan anak, dan membangun rumah,” katanya.

Aries mengatakan, di Bogor tukang jamu tak pernah surut dari tahun ke tahun. Jumlahnya tak pernah kurang dari seribu tukang jamu gendong, yang menjajakan di pasar tradisional, permukiman, hingga pabrik.

”Seribu orang ini masih menjual jamu tradisional, tidak termasuk toko jamu kios yang biasanya jual jamu berbahan kimia,” katanya. Aries juga bercerita kalau tukang jamu sekarang tidak semua digendong, ada yang memakai sepeda dan gerobak dorong.

Harga jamu tradisional masih sangat terjangkau, kisaran Rp3.000 per gelas. ”Menyehatkan dan murah, apalagi jamu tradisional ini jelas tidak ada dampak buruk seperti obat kimia,” terangnya.

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Perindustrian terus mendorong produk jamu Indonesia memiliki daya saing, sehingga menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Menteri Perindustrian, MS. Hidayat memperkirakan pada 2014 penjualan industri jamu dan obat tradisional bisa mencapai Rp15 triliun. Target tersebut dinilainya cukup realistis mengingat pada 2013 penjualan berhasil mencapai Rp14 triliun.

Ia berharap, industri jamu dan obat tradisional terus meningkatkan kualitas produksi dengan standar mutu yang baik. ”Peluang ekspor ke berbagai negara cukup besar,” terangnya di Jakarta beberapa waktu lalu.

Recommended For You

About the Author: Suut Amdani