Bahan Baku Melimpah, Furnitur Kelas Premium Indonesia Potensial Eksis di Pasar Global

GUNTING PITA - Menteri Perindustrian Saleh Husin bersama Founder Da Vinci Holdings PTE LTD Doris Phua menggunting pita tanda peresmian pembukaan Pameran Tunggal 22 tahun DAVINCI di Indonesia yang diselenggarakan di JCC Jakarta, 14 Oktober 2015. (Foto: Kemenperin)
GUNTING PITA – Menteri Perindustrian Saleh Husin bersama Founder Da Vinci Holdings PTE LTD Doris Phua menggunting pita tanda peresmian pembukaan Pameran Tunggal 22 tahun DAVINCI di Indonesia yang diselenggarakan di JCC Jakarta, 14 Oktober 2015. (Foto: Kemenperin)

Melimpahnya sumber bahan baku alami, seperti kayu, rotan, maupun bambu, menjadi keunggulan dan memperkuat daya saing industri furnitur dan kerajinan Indonesia di pasar global.

Pemerintah telah mendorong peningkatan daya saing industri ini, antara lain melalui kebijakan pelarangan ekspor bahan baku kayu yang diatur dalam Permendag No. 44 Tahun 2012 tentang Barang Dilarang Ekspor.

Sementara pelarangan ekspor bahan baku rotan diatur dalam Permendag No. 35 Tahun 2011 tentang Ketentuan Ekspor Rotan dan Produk Rotan.

“Saya tantang desainer dan pengusaha furnitur kelas premium membawa produk Indonesia ke internasional. Rekan-rekan pasti sudah jago bikin desain dan memasarkan produk. Nah, sekarang giliran bikin produk kita naik kelas,” ujar Menteri Perindustrian, Saleh Husin, saat membuka Pameran Tunggal ‘22 Years Experience’ yang digelar Da Vinci Indonesia, di JCC Jakarta, Rabu (14/10/2015).

Menurutnya, pengusaha furnitur kelas premium dapat meningkatkan penggunaan bahan baku lokal dan membawa merek lokal ke kancah internasional. Selain itu, menyerap dan memodifikasi corak tradisional dalam desain produk.

Desainer juga diharapkan mampu menyesuaikan selera pasar sebagai upaya peningkatan daya saing industri furnitur dan kerajinan nasional.

“Tren furnitur dunia yang terus berubah dan berkembang menuntut perhatian para pelaku industri ini. Dibutuhkan upaya menumbuhkan kesadaran inovasi, karya kreatif furnitur baru dengan inspirasi budaya lokal,” tutur Saleh.

Pada kesempatan sama, Menperin Saleh Husin mengunjungi pameran Exclusive Furniture Show 2015 yang juga digelar di kompleks JCC.

“Ajang ini merupakan momentum emas bagi produk lokal untuk unjuk gigi dan bertemu dengan konsumen ritel maupun pelanggan korporat seperti hotel dan perusahaan properti lainnya,” pungkasnya.

2015, Surplus US$283,17 Juta

Pada triwulan II tahun 2015, industri furnitur tumbuh 7,93 persen dan terhitung lebih tinggi jika dibandingkan pada periode sama tahun sebelumnya yang hanya mampu tumbuh sebesar 3,74 persen.

Sementara itu, ekspor komoditas furnitur sampai Juni 2015 sebesar US$361,03 juta dan impor komoditas furnitur periode yang sama sebesar US$77,86 juta. Jadi, neraca perdagangan komoditas furnitur hingga pertengahan 2015 tercatat surplus, yakni US$283,17 juta.

Secara total, pada 2013, nilai ekspor furnitur kayu dan rotan nasional mencapai US$1,8 miliar dan meningkat pada 2014 menjadi US$2,2 miliar. Diprediksi nilai ekspor furnitur kayu dan rotan olahan dalam lima tahun ke depan mencapai US$5 miliar.

Industri ini turut mendorong kinerja pertumbuhan industri nasional. Industri pengolahan non-migas tumbuh sebesar 5,27 persen, lebih besar dari pertumbuhan ekonomi Triwulan II tahun 2015 sebesar 4,67 persen.

Untuk menguatkan citra produk furnitur Tanah Air sebagai produk ramah lingkungan, Kemenperin melakukan promosi untuk mempopulerkan furnitur di tingkat nasional maupun internasional di Eropa, Amerika, dan Tiongkok. Sedangkan di dalam negeri, seperti pameran IFEX 2016 dan InterDex 2016.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.