Guru Besar UGM: Tata Kelola Migas Berarti Terlindunginya Hak Rakyat untuk Cukup Energi

ENERGI ADALAH HAK - Guru Besar Fisipol UGM, Prof Purwo Santoso, mengatakan, semua warga negara berhak atas ketercukupan energi. (Foto: Arif Giyanto)
ENERGI ADALAH HAK – Guru Besar Fisipol UGM, Prof Purwo Santoso, mengatakan, semua warga negara berhak atas ketercukupan energi. (Foto: Arif Giyanto)

Tata kelola migas berarti terlindunginya hak rakyat atas ketercukupan energi. Banyak daerah terisolasi yang tetap terisolasi karena tidak memiliki energi untuk bergerak. Mereka pada akhirnya tidak memiliki kapasitas untuk melejit, karena tidak ada yang memikirkan kebutuhan energinya.

Hal tersebut disampaikan Guru Besar Fisipol UGM, Prof Purwo Santoso, dalam Seminar Nasional Reformasi Tata Kelola Migas, di ruang Balai Senat UGM, Senin (19/10/2015), dirilis Humas UGM.

“Tidak terlalu realistis kalau reformasi itu dilakukan dalam waktu jangka pendek dan lingkup sempit. Untuk kepentingan rakyat sesuai UUD 1945 maka dalam operasionalnya, setiap warga negara mestinya tercukupi kebutuhan energinya di mana pun berada,” ujar Direktur Program Asia Pasific Knowledge tersebut.

Menurutnya, amanat pasal 33 UUD 1945 memposisikan minyak dan gas (Migas) sebagai barang publik bernilai strategis. Karena itu, Migas tidak boleh diperlakukan semata-mata sebagai komoditas perdagangan, namun sebagai barang publik yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

“Karena itu, perlu kejelasan dan kesepakatan terkait tata kelola yang tidak hanya efisien dan adil, melainkan juga menyangga kemajuan Indonesia. Hal ini perlu dikedepankan karena ada kecenderungan reformasi tata kelola Migas saat ini lebih banyak membahas terkait kerangka efisiensi rantai produksi, rantai perdagangan, dan kenyamanan investasi,” ungkap Purwo.

Ia menyatakan, tantangan industri bidang ini semakin lama semakin sulit. Tidak ada solusi, selain mengembangkan transformasi jangka panjang.

Sementara itu, sambungnya, pemikiran tentang governance lebih dikembangkan pada pengelolaan uang, namun tidak bisa dipastikan pendistribusiannya.

Kalimantan Tengah atau Kalimantan Selatan menjadi salah satu contoh daerah yang menyimpan ironi. Dinobatkan sebagai lumbung energi tetapi ketercukupan energi warga tidak terjamin. Listrik byar pet, restoran-restoran harus menyediakan disel, karena suplai energi tidak terjaga,” tutur Wakil Ketua DPW NU DIY ini.

Karena itu, lanjutnya, tranformasi governance yang digagas perlu didorong untuk menguatkan peran strategis negara. Sementara berbagai kerentanan di balik peran negara juga harus tetap dikawal.

“Kajian tentang governance sesungguhnya jauh lebih luas daripada pemberantasan korupsi. Namun, yang lebih penting terkait tata kelola migas ini adalah terlindunginya hak rakyat untuk ketercukupan energi,” ucap Purwo.

Kebijakan Subsidi Konsumtif ke Subsidi Produktif

Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Widyawan Prawiraatmaja, menerangkan, terjadi perubahan paradigma kebijakan dari subsidi konsumtif menjadi subsidi produktif. Sementara dalam tataran tata kelola, kini ada tim tata kelola Migas, di mana pengambilan keputusan didasarkan pada meritokrasi teknik berlandaskan integritas tanpa kepentingan, baik kepentingan pribadi maupun kepentingan kelompok dan sebagainya.

“Dalam pengelolaan Migas, kita ingin menghilangkan pola-pola yang berarah pada perburuan rente, sehingga kita pun dituntut berperilaku jujur, transparan, dan akuntabel,” tuturnya.

Karena itu, menyikapi Rancangan Undang-Undang Migas, tambah Widyawan, harus dilihat berbagai konteks terkini. Konteks pembenahan, ketahanan energi, konteks keinginan National Oil Company (NOC) tumbuh besar, berdaya saing, dan konteks kehadiran pemerintah.

Selain itu, harus memperhatikan konteks pemberdayaan masyakarakat, mengurangi gap, dan energi sebagai bagian dari kegiatan ekonomi yang menciptakan nilai tambah.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.