Teror Paris, Erik Satrya Wardhana: Skenario Besar Kejahatan Kemanusiaan

PENANGKAPAN - Polisi mengamankan massa di Saint-Denis, tak jauh dari Paris, saat penangkapan tersangka mastermind Teror Paris, Rabu (18/11/2015). (Foto: AP)
PENANGKAPAN – Polisi mengamankan massa di Saint-Denis, tak jauh dari Paris, saat penangkapan tersangka mastermind Teror Paris, Rabu (18/11/2015). (Foto: AP)

Pengamat kebangsaan, Erik Satrya Wardhana, mengatakan, Teror Paris pada Jumat (13/11/2015) tidak berdiri sendiri. Aksi teror tersebut merupakan rangkaian peristiwa dalam skenario besar kejahatan terhadap kemanusiaan.

“Serangan teroris di Paris adalah serangan terhadap kemanusiaan. Kita mengutuk keras. Saya meyakini, peristiwa itu tidak berdiri sendiri, tapi terkait dengan peristiwa serangan terhadap kemanusiaan lainnya di Suriah, Irak, Palestina, dan belahan dunia lain,” ujar Erik, beberapa waktu lalu.

Teror Paris, sambungnya, bisa jadi terhubung sebagai sebab-akibat.

“Kita mengutuk keras semua kejahatan atas kemanusiaan di Paris, Suriah, Irak, Palestina, Afganistan, dan belahan dunia lain, baik yang dilakukan oleh teroris maupun negara, yang nyata-nyata telah menimbulkan korban ratusan ribu jiwa manusia dan anak-anak yang tidak berdosa,” tegas politisi Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) itu.

Erik menandaskan, Teror Paris harus dijadikan momentum untuk melakukan evaluasi terhadap pola relasi antar-aktor penting dunia yang begitu sarat manipulasi dan kekerasan.

Erik Satrya Wardhana
Erik Satrya Wardhana

“Indonesia bisa mengambil peran aktif untuk memperbaiki itu dengan berani menyatakan yang benar dan yang salah, berdasarkan nilai kemanusiaan yang hakiki. Indonesia harus ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial,” pungkasnya.

Indonesia Waspada

Sementara itu, demi menghindari situasi yang lebih runyam, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengimbau agar masyarakat internasional tidak terburu-buru menyampaikan tuduhan kepada pihak-pihak tertentu.

“Menciptakan suasana kondusif lebih baik bagi proses penyelidikan daripada mengumbar saling curiga,” kata Said Aqil, dilansir Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia.

Di dalam negeri, PBNU meminta pemerintah dan segenap elemen bangsa untuk bersama-sama meningkatkan kewaspadaan. PBNU mengajak seluruh elemen umat beragama untuk meningkatkan komunikasi lintas agama.

“Kehadiran dan saling sapa antartokoh agama akan menjadi benteng terkuat melawan segala bentuk ancaman adu domba, sekaligus perekat bagi persatuan dan kesatuan bangsa ini,” ucap Kyai Said.

Pada tempat dan kesempatan berbeda, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, berharap, umat Muslim, terutama di Eropa, tetap menjalin komunikasi positif dan proaktif terhadap sesama umat manusia.

“Meningkatkan integrasi sosial dengan masyarakat Eropa. Islam itu rahmatan lil ‘alamin dan umat Islam harus membawa misi damai dan rahmat bagi lingkungannya,” paparnya.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.