Kembangkan Social Entrepreneur, UGM Pertemukan 100-an Peneliti dari Indonesia dan Swedia

Indonesia-Sweden Excellence Seminar di UGM. (Foto: Humas UGM)
Indonesia-Sweden Excellence Seminar di UGM. (Foto: Humas UGM)

Lebih dari 100 peneliti dari Indonesia dan Swedia berkumpul di Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam Indonesia-Sweden Excellence Seminar, Selasa (15/3/2016).

Seminar menyoroti 6 topik utama yang relevan bagi Indonesia dan Swedia, yaitu pembangunan maritim dan teknologi kemaritiman, perencanaan kota, manajemen bencana dan ketahanan lokal, energi terbarukan, masyarakat sipil, serta manajemen universitas.

Topik-topik ini, menurut rektor UGM Profesor Dwikorita Karnawati menjadi fokus UGM dalam pengembangan program riset dan pengabdian masyarakat.

“Kami berkeinginan untuk menerapkan prinsip social entrepreneur, yaitu pendidikan dan riset tidak hanya berakhir di tesis dan disertasi, tetapi juga dapat menjadi pendorong pembangunan ekonomi bangsa. Dan saya yakin, universitas di Swedia dan universitas-universitas unggul di Indonesia dapat bersinergi untuk bersama-sama mencapai visi tersebut,” ujarnya, dirilis Humas UGM.

Wakil Duta Besar Swedia, Eddy Fonyodi, mengatakan, kedatangan 60 peneliti dari Swedia ke Indonesia untuk pertama kalinya menunjukkan pertumbuhan kerja sama dan koneksi yang terjalin antara Indonesia dan Swedia.

“Meski sebelumnya kedua negara telah memiliki hubungan yang produktif dalam beberapa tahun terakhir, namun tahun 2016 dalam banyak hal, menandai dimulainya era baru kerja sama kedua negara,” tuturnya.

Seminar diadakan atas kerja sama UGM; Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti); Swedish Academic Collaboration Forum (SACF), serta Kedutaan Besar Swedia di Jakarta.

Kegiatan bertujuan memperkuat kerja sama yang telah terjalin di antara kedua negara serta mempromosikan kolaborasi baru di area-area strategis terkait riset dan pendidikan tinggi.

Selain peneliti dari UGM, hadir para peneliti dari Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, serta Universitas Diponegoro.

Sebagai bagian dari seminar, pada hari yang sama diadakan pameran pendidikan Study in Sweden untuk memperkenalkan program-program yang tersedia di perguruan tinggi Swedia, serta mendorong mahasiswa untuk menjadikan Swedia sebagai negara tujuan melanjutkan studi.

Follow Up Letter of Intent

Direktur Jenderal Pembelajaran dan Mahasiswa Kemristekdikti, Profesor Intan Ahmad, menuturkan, kegiatan seminar adalah follow up dari letter of intent kerja sama antara Indonesia dan Swedia dalam bidang riset dan pendidikan tinggi.

“Saya harap letter of intent ini dapat menjadi platform bagi Indonesia dan Swedia untuk membangun kolaborasi dan program-program inovatif di waktu mendatang,” ucapnya.

Ia memaparkan beberapa poin penting yang terkandung dalam letter of intent yang dimaksud, di antaranya terkait upaya mempromosikan kerja sama dan pertukaran informasi, membagikan pengalaman dalam riset ilmiah, serta inovasi dalam area-area yang menjadi ketertarikan bersama.

Bersama Brasil, Tiongkok, Singapura, dan Korea Selatan, Indonesia menjadi salah satu negara mitra bagi keenam universitas yang tergabung dalam SACF, yaitu Chalmers University of Technology, KTH Royal Institute of Technology, Linköping University, Lund University, Stockholm University, dan Uppsala University.

Alasannya, dianggap memiliki visi sama dalam mendorong kolaborasi internasional di bidang riset dan pendidikan tinggi.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.