Turbulensi Perekonomian Dunia, Faisal Basri: Jangan Pasang Target Peningkatan Ekspor Terlalu Tinggi

Ekonom Faisal Basri. (Foto: Faisalbasri01 WordPress)
Ekonom Faisal Basri. (Foto: Faisalbasri01 WordPress)

Jakarta, GEMA NURANI ** Ekonom Faisal Basri berpandangan, ada baiknya pemerintah menitikberatkan upaya pada penjagaan stabilitas ekonomi, untuk menghadapi kondisi tertekan dengan ancaman dari berbagai penjuru, akibat pasar dunia yang sedang tertekan.

“Lebih baik melunakkan target. Karena pasar dunia sedang tertekan, ada baiknya tidak memasang  target peningkatan ekspor terlalu tinggi. Sekadar tumbuh saja sudah lumayan, mengingat selama empat tahun terahir selalu merosot dan kian parah dalam dua bulan pertama tahun 2016,” ujar Faisal dalam laman pribadinya, Selasa (8/3/2016).

Menurutnya, hal yang cukup mengkhawatirkan adalah penerimaan negara dua bulan pertama tahun ini yang turun dibandingkan 2014 dan 2015.

“Boleh jadi karena potensi penerimaan tahun ini sudah disedot tahun lalu karena ‘kalap’ defisit APBN bisa menembus 3 persen dari PDB, sehingga melanggar Undang-Undang Keuangan Negara,” tandas Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA) tersebut.

Akibat penerapan jurus ‘jalan pintas’, sambungnya, justru muncul komplikasi di sektor lain. Muncul pula beragam kebijakan jalan pintas atas nama swasembada yang merusak keseimbangan pasar. Akibatnya, memicu kenaikan harga kebutuhan pokok.

“Ada pula dengan bendera ‘nasionalisme’ untuk mengeruk rente,” ungkap Faisal.

Belum lagi, tuturnya, silang sengketa dan kegaduhan di antara sesama menteri. Ia mengatakan, seharusnya dalam menghadapi tantangan dan ancaman dari luar yang tidak habis-habisnya, para pejabat semakin kompak, dan Presiden efektif sebagai konduktor, memandu semua pemain musik yang tunduk pada partitur, agar orkestrasi menghasilkan nada-nada indah.

“Lebih menjaga yang sudah dalam genggaman ketimbang mengandalkan sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan. Terpenting adalah menjaga daya beli masyarakat. Kedua, mendorong agar investasi swasta terus naik, termasuk penanaman modal asing langsung,” terang dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini.

Tidak Perlu Panik

Lebih lanjut, Faisal memaparkan pengalaman berharga kala menghadapi krisis finansial global 2008. Kala itu, perekonomian dunia mengalami resesi. Hampir semua negara maju dan negara emerging markets mengalami kontraksi ekonomi.

Indonesia bisa menikmati pertumbuhan positif, bahkan mencapai 4,6 persen yang hanya sedikit lebih rendah ketimbang pertumbuhan tahun 2015.

“Tahun ini bahaya menghadang dari segala penjuru. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok melemah, perekonomian Brasil terjun bebas. Emerging markets mengalami penurunan belanja modal dan peningkatan utang swasta,” ulasnya.

Perekonomian negara maju, tambahnya, belum menunjukkan tanda-tanda mampu tumbuh memadai walaupun telah menempuh kebijakan moneter super-longgar, bahkan sejumlah bank sentral telah menggulirkan kebijakan suku bunga negatif. Harga-harga komoditas masih dalam kondisi tertekan.

“Sebagian besar bursa saham dunia goyah. Laba korporasi melandai di mana-mana,” katanya.

Meski demikian, Faisal berpendapat, tidak perlu terjadi kepanikan. Karena, selalu ada peluang dalam turbulensi sekalipun; reason not to worry.

 

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.